DVI Polda Kalsel Kembali Berhasil Identifikasi Lima Korban KM Virgo 8
- 16 Sep 2026 10:12 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan kembali berhasil mengidentifikasi lima korban insiden KM Virgo Transport 8 di RS Bhayangkara Banjarmasin, Selasa, 15 September 2026 malam. Kelima korban sebelumnya dievakuasi tim gabungan menggunakan helikopter Basarnas dan kemudian dibawa ke RSBhayangkara untuk menjalani proses identifikasi.
Kelima korban yang teridentifikasi yakni Nurul Rizal Hidayat, laki-laki 33 tahun asal Pamekasan, Jawa Timur; Deni Riza Saputra, laki-laki 25 tahun asal Kabupaten Kediri, Jawa Timur; dan Imam Suparno, laki-laki 66 tahun asal Surabaya, Jawa Timur. Dua korban lainnya yakni Erik Mausul Latif, laki-laki 37 tahun asal Garut, Jawa Barat, serta Risa Kurnia Putra, laki-laki 28 tahun asal Garut, Jawa Barat.
Kabid Dokkes Polda Kalsel Kombes Pol dr. Muchammad Sofwan, Sp.OT (K) Spine., MARS., menyampaikan hasil identifikasi kelima korban tersebut berdasarkan data post-mortem dan ante-mortem yang telah dicocokkan oleh Tim DVI. Dengan tambahan lima korban tersebut, total jenazah korban KM Virgo Transport 8 yang telah berhasil diidentifikasi Tim DVI menjadi enam orang.
“Sehingga total jumlah jenazah yang sudah teridentifikasi sampai hari ini, Selasa 15 September 2026, adalah sejumlah 6 jenazah,” ujarnya.
Sebelumnya satu jenazah korban pertama yang berhasil teridentifikasi atas nama Reynar Fausta Yosilianto, Laki-laki 22 Tahun asal Malang, Jawa Timur. Jenazah kemudian telah dipulangkan dan dimakamkan oleh pihak keluarga pada Selasa siang.
Sementara itu, Kabid DVI Pusdokkes Polri, Kombes Pol. dr. Wahyu Hidajati Dwi Palupi, M.A.R.S., Sp.F. mengatakan proses identifikasi sejauh ini dapat dilakukan dengan cepat karena kondisi jenazah yang ditemukan masih relatif baik. Kondisi tersebut memungkinkan tim mengambil sidik jari dan mencocokkannya dengan data kependudukan.
“Perlu saya sampaikan bahwa sampai dengan hari ini, identifikasi bisa berjalan dengan cepat. Jadi semua jenazah yang ditemukan bisa teridentifikasi dengan cepat karena kondisi jenazah relatif bagus, sehingga sidik jarinya masih bisa diambil datanya dan muncul di data kependudukan,” ucapnya.
Selain pemeriksaan sidik jari, tim DVI juga memanfaatkan barang pribadi yang ditemukan bersama jenazah sebagai bagian dari proses identifikasi. Sebagian korban ditemukan membawa identitas diri, sementara pada korban lainnya barang pribadi tidak ditemukan bersama tubuh.
“Kemudian mengenai identitas, ada yang ditemukan di dalam bajunya itu memakai ada dompet dan ada identitasnya. Itu sangat membantu. Tetapi yang lain itu tidak ada identitasnya, mungkin lepas atau ada di tas yang terlepas dari badan, seperti itu,” ujarnya.
Meski proses identifikasi masih berjalan, Tim DVI mengingatkan adanya kemungkinan perubahan kondisi jenazah seiring waktu. Keluarga penumpang yang masih dinyatakan hilang diminta segera memberikan laporan kepada posko ante-mortem yang telah disediakan.
“Semakin hari ke depan kondisi jenazah mungkin tidak sebaik sekarang, sehingga mungkin membutuhkan waktu lebih lama. Sehingga mohon bantuan kepada keluarga korban yang merasa kehilangan dan belum ditemukan agar menghubungi posko-posko AM yang sudah ada di kami,” katanya.
Tim DVI juga mengingatkan keluarga penumpang yang hingga kini belum ditemukan untuk segera melaporkan kehilangan ke posko ante-mortem yang telah disediakan. Pelaporan dapat dilakukan di posko Polda maupun Biddokkes dan Rumah Sakit Bhayangkara di daerah masing-masing, tanpa harus datang langsung ke Banjarmasin.
dr Wahyu menambahkan, laporan keluarga diperlukan untuk melengkapi data pembanding, termasuk kemungkinan pengambilan sampel DNA. Data tersebut akan membantu tim mencocokkan identitas korban apabila metode identifikasi lain belum dapat digunakan.
“Bisa melapor di Posko Polda Jatim, melapor di Posko Polda Jabar, atau melapor di Posko Polda setempat. Karena ternyata para penumpang ini juga berasal dari berbagai wilayah. Tidak perlu datang ke sini tidak apa-apa, lapor saja ke Biddokkes setempat atau Rumah Sakit Bhayangkara setempat,“ ucapnya.
Di tempat yang sama, pihak Jasa Raharja menegaskan jaminan santunan bagi para korban. Korban meninggal dunia mendapatkan santunan sebesar Rp50 juta ditambah extra cover sebesar Rp20 juta, sehingga total Rp70 juta.
Sedangkan untuk korban luka-luka, Jasa Raharja menanggung biaya perawatan medis maksimal Rp30 juta. Saat ini, sebanyak 21 korban luka telah ditangani di beberapa rumah sakit, seperti RSUD Ulin, RS TPT, dan RS AU, di mana sebagian di antaranya telah diperbolehkan pulang.
Proses pencarian dan evakuasi oleh tim gabungan masih terus berlanjut di perairan terdampak. Masyarakat dan keluarga korban diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari pihak berwenang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....