Rumah Bekantan Terancam Karhutla

  • 19 Sep 2026 13:29 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarbaru - Perlindungan habitat bekantan di Kalimantan Selatan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu dilakukan secara terintegrasi. Mulai dari pencegahan, pemantauan, penanganan kebakaran hingga pemulihan ekosistem.

Founder Sahabat Bekantan Indonesia sekaligus Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) bidang Biologi Konservasi, Amalia Rezeki, mengatakan perlindungan habitat tidak cukup dilakukan setelah kebakaran terjadi..Menurutnya, pemantauan khusus terhadap habitat bekantan perlu dilakukan secara rutin untuk mengetahui kondisi vegetasi, keberadaan kelompok bekantan, serta perubahan lingkungan di sekitar habitat.

“Langkah yang perlu kita lakukan adalah membangun sistem perlindungan habitat yang lebih terintegrasi, mulai dari pencegahan, pemantauan, penanganan kebakaran, sampai pemulihan ekosistem,” ujarnya di Banjarbaru, Jumat 18 September 2026.

Amalia juga mendorong pemetaan kawasan habitat yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran tinggi. Langkah ini penting, termasuk untuk habitat bekantan yang berada di luar kawasan konservasi.

Selain pemantauan, patroli bersama antara pemerintah, masyarakat, akademisi dan komunitas konservasi dinilai dapat memperkuat deteksi dini. Serta mempercepat penanganan apabila ditemukan indikasi kebakaran.

Terkait perlindungan kawasan, pembuatan sekat atau zona perlindungan dapat menjadi salah satu pilihan. Namun, penerapannya harus disesuaikan dengan karakteristik wilayah, terutama kondisi hidrologi, vegetasi dan aktivitas masyarakat di kawasan lahan basah maupun tepian sungai.

Pemulihan habitat juga perlu dilakukan melalui restorasi vegetasi yang menjadi sumber pakan bekantan, salah satunya rambai atau Sonneratia caseolaris. Namun, Amalia menekankan restorasi tidak berhenti pada kegiatan penanaman.

Pertumbuhan tanaman dan keberlanjutan habitat harus dipantau secara berkala agar benar-benar memberikan manfaat bagi ekosistem. “Restorasi tidak cukup hanya dengan menanam pohon. Kita harus memastikan bahwa vegetasi tersebut dapat tumbuh dengan baik dan benar-benar mendukung pemulihan habitat melalui monitoring berkala,” katanya.

Ia menambahkan, masyarakat sekitar habitat harus dilibatkan dalam upaya pemantauan, pencegahan kebakaran hingga pemulihan kawasan. “Kita tidak mungkin menjaga seluruh habitat bekantan hanya dengan mengandalkan satu lembaga atau satu kawasan konservasi saja,” katanya.

Penguatan kolaborasi lintas pihak diharapkan dapat menjaga habitat bekantan sekaligus mempertahankan keberlanjutan ekosistem lahan basah di Kalimantan Selatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....