Kesadaran Batin Bantu Hadapi Tekanan Era Digital
- 02 Okt 2026 07:07 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Penerapan hidup berkesadaran dinilai sebagai salah satu cara efektif menghadapi tekanan mental dan konflik emosional di era digital yang serba cepat.
- Kebiasaan bertindak secara otomatis tanpa melibatkan kesadaran penuh dapat memicu keputusan impulsif yang berdampak negatif pada diri sendiri maupun orang lain.
- Kesadaran memberikan ruang antara munculnya emosi dan tindakan yang dilakukan seseorang, sehingga memungkinkan respons yang lebih terkontrol dan bijaksana terhadap berbagai situasi.
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Penerapan hidup berkesadaran dinilai menjadi salah satu cara menghadapi tekanan mental dan konflik emosional di era digital yang serba cepat. Kebiasaan bertindak secara otomatis tanpa melibatkan kesadaran penuh dapat memicu keputusan impulsif yang berdampak pada diri sendiri maupun orang lain.
Ketua Majelis Buddhayana Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan, Upasaka Pandita Sutekman Fauzie, dalam siaran Mimbar Agama Buddha RRI Pro1 Banjarmasin, Senin, 28 September 2026, menjelaskan pentingnya kesadaran dalam mengendalikan respons terhadap berbagai situasi. Menurutnya, kesadaran dapat memberikan ruang antara munculnya emosi dan tindakan yang dilakukan seseorang.
"Berkesadaran berarti tidak hidup secara otomatis. Melainkan belajar menyadari apa yang sedang kita lakukan, pikirkan, dan rasakan," ujarnya.
Ia mengatakan, seseorang dapat memberikan respons berlebihan ketika menghadapi kekecewaan karena pikiran tidak sepenuhnya hadir pada situasi yang sedang berlangsung. Oleh karena itu, kesadaran batin atau sati perlu dilatih agar masyarakat lebih bijak dalam menghadapi dinamika kehidupan.
Upasaka Pandita Sutekman Fauzie mengajak masyarakat menerapkan pola hidup berkesadaran dalam aktivitas sehari-hari. Menurutnya, kejernihan pikiran dan kesadaran penuh menjadi dasar untuk membangun ketenteraman dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia juga mengaitkan pentingnya menjaga kesadaran batin dengan ajaran Dhammapada mengenai jalan menuju kedamaian. Kelengahan dalam berpikir dan bertindak dinilai dapat memengaruhi keharmonisan keluarga serta hubungan sosial.
"Kewaspadaan atau kesadaran adalah jalan menuju kehidupan yang bermakna. Sedangkan kelengahan merupakan jalan menuju penderitaan," ucapnya.
Dalam perkembangan teknologi, ia menyoroti interaksi di media sosial yang rentan memicu perselisihan akibat ucapan tanpa pertimbangan. Masyarakat diimbau memastikan setiap tanggapan yang disampaikan memiliki kebenaran dan manfaat sebelum dibagikan ke ruang publik digital.
Majelis Buddhayana Indonesia Kalsel juga mendorong masyarakat melatih kesadaran dengan cara sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Langkah tersebut dimulai dengan menghentikan reaksi spontan, mengenali kondisi batin, kemudian menentukan tindakan secara lebih bijaksana.
"Ketika emosi muncul kita perlu berhenti sejenak, menyadari kondisi batin. Lalu memilih tindakan yang paling bijaksana," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....