Memahami Makna Lalai dalam Salat Menurut Al-Qur'an
- 20 Sep 2026 20:36 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Salat merupakan ibadah yang harus dilaksanakan lima kali dalam sehari dan menempati posisi penting dalam kehidupan seorang Muslim.
- Dr. Imam Alfiannor menekankan bahwa frekuensi melaksanakan salat harus diiringi dengan kesungguhan dalam menjaga waktu dan penghayatannya.
- Pertanyaan penting bagi umat Muslim bukan sekadar apakah sudah melaksanakan salat, melainkan apakah termasuk dalam golongan orang yang menjaganya atau malah melalaikannya.
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Salat menempati posisi penting dalam kehidupan seorang Muslim karena menjadi ibadah yang dilaksanakan lima kali dalam sehari. Namun, frekuensi melaksanakan salat perlu diiringi kesungguhan dalam menjaga waktu dan penghayatannya.
Hal tersebut disampaikan Akademisi UIN Antasari Banjarmasin, Dr. Imam Alfiannor, S.Ag., M.HI., dalam acara Kuliah Subuh, Jumat, 4 September 2026. Menurutnya, pertanyaan bagi seorang Muslim bukan hanya apakah sudah melaksanakan salat, tetapi juga apakah termasuk orang yang melalaikan salat.
“Dalam Al-Ma'un ayat 4 dan 5 Allah berfirman, ‘Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai terhadap salatnya’,” ujarnya. “Sekilas ayat tersebut terasa mengkhawatirkan karena ancaman justru ditujukan kepada al-muṣallīn, yaitu orang-orang yang salat.”
Imam mengatakan, lintasan pikiran mengenai pekerjaan, keluarga, atau persoalan kehidupan ketika salat tidak serta-merta membuat seseorang termasuk dalam ancaman ayat tersebut. Menurutnya, makna ayat perlu dipahami secara utuh melalui penjelasan para mufasir.
“Lalai terhadap salat tidak sama dengan lupa sesaat di dalam salat,” ujarnya menambahkan. “Di antaranya terdapat penafsiran bahwa yang dimaksud adalah mereka yang menyia-nyiakan salat dan tidak memperhatikan waktunya, termasuk menunda pelaksanaannya dari waktu yang semestinya.”
Ia menjelaskan, gangguan konsentrasi dalam salat dapat terjadi karena keterbatasan manusia dan tidak selalu dapat dihindari. Persoalan yang lebih serius adalah ketika seseorang membangun kebiasaan meremehkan salat dalam kehidupannya.
“Gangguan konsentrasi dapat terjadi karena keterbatasan manusia,” ujarnya. “Yang menjadi persoalan lebih serius ialah ketika seseorang membangun sikap hidup yang meremehkan salat, seperti menunda tanpa alasan, meninggalkan, mengerjakannya tanpa kepedulian, atau tidak lagi menempatkannya sebagai kewajiban yang harus dijaga.”
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....