Kenali Perbedaan Istilah Maulud dan Maulid Nabi

  • 12 Sep 2026 06:24 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Maulud merujuk pada pribadi Nabi Muhammad sebagai manusia yang dilahirkan, sedangkan Maulid berkaitan dengan peristiwa atau momentum kelahiran beliau.
  • Secara kebahasaan, Maulud dan Maulid memiliki keterkaitan tetapi makna yang berbeda dalam konteks keislaman.
  • Perbedaan ini dijelaskan oleh Dr. Hasbullah, dosen Prodi PBA FTK UIN Antasari Banjarmasin, melalui program Lentera Kehidupan RRI Pro1.

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Istilah Maulud dan Maulid memiliki keterkaitan, tetapi keduanya tidak memiliki makna yang sama. Dosen Prodi PBA FTK UIN Antasari Banjarmasin, Dr. Hasbullah, S.Ag., M.H.I., menjelaskan perbedaan tersebut dalam program Lentera Kehidupan RRI Pro1 Banjarmasin, Jumat, 11 September 2026.

Ia menjelaskan, secara kebahasaan, Maulud merujuk pada sesuatu atau seseorang yang dilahirkan, sedangkan Maulid berkaitan dengan kelahiran, waktu, atau tempat kelahiran. Dalam konteks Nabi Muhammad saw, Maulud merujuk kepada pribadi Nabi sebagai manusia yang dilahirkan, sementara Maulid merujuk pada peristiwa atau momentum kelahiran beliau.

“Maulud berarti yang dilahirkan, sedangkan Maulid berarti kelahiran, waktu atau tempat kelahiran,” ujar Hasbullah. “Dalam konteks Nabi Muhammad saw, Maulud merujuk kepada pribadi Nabi sebagai manusia yang dilahirkan, sementara Maulid merujuk kepada peristiwa atau momentum kelahiran beliau.”

Dalam perkembangan tradisi umat Islam, Hasbullah menerangkan bahwa istilah Maulid Nabi kemudian digunakan untuk menyebut kegiatan mengenang kelahiran, sejarah, perjuangan, keutamaan, dan keteladanan Rasulullah saw. Al-Qur'an tidak menyebut secara eksplisit perintah untuk menyelenggarakan peringatan Maulid, tetapi memberikan prinsip tentang kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah saw.

“Al-Qur'an tidak menyebut secara eksplisit adanya perintah untuk menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi,” katanya. “Namun, Al-Qur'an memberikan sejumlah prinsip yang menjadi dasar kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah saw, termasuk perintah untuk berselawat dan mengucapkan salam kepada beliau.”

Ia juga menjelaskan bahwa penghormatan terhadap kelahiran Nabi memiliki dasar dalam hadis. Ketika Rasulullah saw ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menyebut hari tersebut sebagai hari kelahirannya sekaligus hari ketika wahyu diturunkan kepadanya.

“Hadis tentang puasa hari Senin menunjukkan bahwa Nabi saw mengaitkan hari tersebut dengan nikmat kelahiran dan awal penerimaan wahyu,” kata Hasbullah. “Hadis itu memang tidak secara langsung memerintahkan peringatan Maulid secara tahunan, tetapi menunjukkan bahwa kelahiran Nabi merupakan peristiwa yang memiliki nilai spiritual.”

Perbedaan istilah Maulud dan Maulid penting dipahami agar penggunaannya sesuai konteks. Keduanya tetap berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad saw sebagai bagian dari sejarah dan keteladanan Rasulullah bagi umat Islam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....