Trauma Orang Tua Berpotensi Pengaruhi Pola Asuh Anak

  • 11 Sep 2026 19:47 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Trauma masa lalu orang tua dapat secara signifikan memengaruhi cara mereka berinteraksi dan mengasuh anak mereka.
  • Luka emosional yang tidak terselesaikan berpotensi membentuk pola komunikasi dan pengasuhan yang kurang sehat dalam lingkungan keluarga.
  • Trauma pada orang tua dapat berasal dari berbagai pengalaman masa kecil termasuk kekerasan fisik dan verbal, pengabaian, perceraian, serta pola pengasuhan yang terlalu menuntut.

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Trauma masa lalu orang tua dapat memengaruhi cara mereka berinteraksi dan mengasuh anak. Luka emosional yang tidak terselesaikan berpotensi membentuk pola komunikasi dan pengasuhan yang kurang sehat di dalam keluarga.

Hal tersebut disampaikan dalam program Cerita di Siang Hari RRI Pro1 Banjarmasin, Kamis, 10 September 2026. Trauma tersebut dapat berasal dari pengalaman masa kecil, seperti kekerasan fisik maupun verbal, pengabaian, perceraian orang tua, hingga pola pengasuhan yang terlalu menuntut.

“Parental trauma terjadi ketika orang tua membawa luka emosional, kecemasan, atau memori buruk dari pengalaman masa kecil ke dalam kehidupan saat ini,” ujar Rizky Amalia Jannati, M.Psi., Psikolog Klinis Ahli Muda RSJ Sambang Lihum. “Pengalaman tersebut kemudian dapat memengaruhi bagaimana orang tua berinteraksi dan membangun hubungan dengan anak.”

Menurutnya, pola pengasuhan menjadi salah satu faktor yang dapat membentuk trauma, terutama ketika berlangsung terus-menerus dan memunculkan respons yang tidak adaptif. Pengasuhan otoriter, permisif, maupun abai dapat memberikan dampak berbeda terhadap perkembangan emosi dan perilaku anak.

“Pada pola asuh otoriter, anak dapat tumbuh dengan kecemasan dan rasa takut salah karena terbiasa dengan kepatuhan tanpa kompromi,” ucap Rizky. “Sementara pola permisif dapat membuat anak kesulitan menentukan batasan diri, sedangkan pengasuhan yang abai dapat membuat anak kesulitan mengenali diri dan emosinya.”

Ia juga menyatakan bahwa trauma dapat berlangsung lintas generasi melalui pola interaksi dan pengasuhan sehari-hari, bukan semata-mata karena faktor biologis. Karena itu, kesadaran orang tua terhadap pemicu emosi menjadi langkah penting untuk mencegah luka yang sama terus terbawa kepada generasi berikutnya.

“Untuk memutus rantai trauma, orang tua perlu meningkatkan kesadaran diri, mengenali pemicu emosi, mengambil jeda sebelum merespons, dan menenangkan diri,” katanya. “Jika diperlukan, jangan ragu untuk bercerita kepada orang terdekat atau meminta bantuan profesional.”

Kesadaran orang tua terhadap pengalaman masa lalu dapat menjadi langkah awal untuk membangun pola pengasuhan yang lebih sehat. Dengan mengenali emosi dan mencari bantuan saat diperlukan, orang tua dapat menciptakan hubungan yang lebih positif bersama anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....