Wabul Sawi Festival 2026 Suarakan Isu Lingkungan lewat Sastra

  • 11 Sep 2026 19:12 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Wabul Sawi Festival 2026 menggunakan sastra sebagai medium untuk menyuarakan persoalan lingkungan dan bencana ekologis di Kalimantan Selatan.
  • Festival ini tidak hanya menghadirkan karya seni, melainkan juga membangun kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kondisi lingkungan melalui pendekatan praktis.
  • Program residensi penulis menjadi strategi utama untuk mendekatkan kreator dengan masyarakat dan lokasi yang menghadapi persoalan ekologis secara langsung.

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Wabul Sawi Festival 2026 mendorong sastra menjadi ruang untuk menyuarakan persoalan lingkungan dan bencana ekologis di Kalimantan Selatan. Kegiatan ini tidak sekadar menghadirkan karya seni, tetapi juga berupaya membangun kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kondisi lingkungan.

Hal tersebut disampaikan dalam program Kita Indonesia: Palidangan RRI Pro1 Banjarmasin, Kamis, 10 September 2026. Salah satu pendekatan dilakukan dengan membawa penulis lebih dekat kepada masyarakat dan lokasi yang menghadapi persoalan ekologis melalui program residensi.

Founder Organisasi Wabul Sawi Kalimantan, Hudan Nur, mengatakan para penulis dalam program tersebut berinteraksi langsung dengan warga dan mengolah pengalaman menjadi karya sastra. Karya tersebut diharapkan mampu membuka perhatian publik terhadap persoalan lingkungan yang terjadi di sekitar masyarakat.

“Wabul Sawi itu singkatan dari Wani Baidabul Sanggup Menggawi. Artinya, kita tidak hanya berani menyampaikan sesuatu, tetapi juga harus sanggup mengerjakannya,” ujar Hudan.

Hudan mengatakan Wabul Sawi telah dikembangkan sejak 2024 dengan perhatian terhadap isu lingkungan dan keterlibatan berbagai kelompok masyarakat. Pada 2026, salah satu programnya berupa residensi penulis di Rantau Bakula yang menghasilkan karya cerpen bertema lingkungan.

“Persoalan lingkungan ini sebenarnya sangat penting, tetapi belum menjadi isu yang prioritas dalam isu-isu publik di Kalimantan Selatan,” kata Hudan. “Karena itu, kami mencoba menyuarakannya melalui sastra dan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat.”

Sementara itu, Penulis sekaligus Founder Wabul Sawi Kalimantan, Sandi Firly, menilai sastra dapat menjadi salah satu cara untuk menyampaikan kritik terhadap persoalan lingkungan secara lebih dekat dengan masyarakat. Menurutnya, perubahan membutuhkan keterlibatan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pihak, sedangkan sastrawan tetap memiliki tanggung jawab untuk terus menyuarakan persoalan tersebut.

“Tugas kita tetap menyuarakan persoalan itu dengan berbagai cara, salah satunya melalui sastra,” ujar Sandi. “Kita ingin menggerakkan masyarakat, pemerintah, pemangku kepentingan, maupun pengusaha bahwa persoalan lingkungan ini sebenarnya krusial.”

Sastra diharapkan tidak hanya menjadi media ekspresi, tetapi juga mampu mendorong masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan. Melalui kolaborasi berbagai pihak, pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan dapat terus disuarakan dan diwujudkan dalam tindakan nyata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....