Memaknai Kemerdekaan lewat Puisi dan Sastra

  • 23 Agt 2026 10:22 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia bukan hanya tentang kemeriahan lomba dan kibaran Merah Putih, tetapi juga menjadi momen refleksi atas duka yang dirasakan masyarakat akibat bencana dan persoalan sosial.
  • RRI Pro4 Banjarmasin menggelar Ruang Sastra pada Kamis, 20 Agustus 2026, dengan tema 'Suka Cita Vs Duka Cita Pasca Kemerdekaan' sebagai bagian dari Ragam Budaya.
  • Program Ruang Sastra RRI Pro4 Banjarmasin menghadirkan tiga pegiat sastra muda, yakni Alvian, Legi Artisa, dan Rizky Ramadhan untuk berdiskusi tentang isu-isu sosial dan bencana.

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya tentang kemeriahan lomba dan kibaran Merah Putih. Di tengah suka cita perayaan, masih ada duka yang dirasakan sebagian masyarakat akibat bencana dan persoalan sosial.

Hal tersebut menjadi refleksi dalam siaran Ruang Sastra RRI Pro4 Banjarmasin, Kamis, 20 Agustus 2026, melalui tema “Suka Cita Vs Duka Cita Pasca Kemerdekaan”. Program yang menjadi bagian dari Ragam Budaya RRI Pro4 Banjarmasin tersebut menghadirkan tiga pegiat sastra muda, yakni Alvian, Legi Artisa, dan Rizky Ramadhan.

Alvian mengatakan, kemerdekaan patut disambut dengan suka cita karena Indonesia telah mencapai usia 81 tahun. Namun, menurutnya, kegembiraan tersebut tidak seharusnya membuat masyarakat menutup mata terhadap saudara yang sedang menghadapi bencana, termasuk kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan.

“Dalam kemerdekaan kita harus bersuka cita atas kemerdekaan yang sudah ke-81 tahun,” ujar Alvian. “Namun, kita tetap jangan sampai menutup mata bahwa ada saudara kita yang mengalami bencana.”

Situasi tersebut menjadi salah satu alasan Alvian mengangkat persoalan bencana ke dalam karya sastra. Menurutnya, sastra dapat menjadi media untuk menyampaikan keresahan sekaligus mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kondisi di sekitarnya.

Sementara itu, Rizky Ramadhan, pelajar SMK Negeri 5 Banjarmasin, memaknai kemerdekaan dari sudut pandang generasi muda. Menurutnya, kemerdekaan tetap menghadirkan kebanggaan, salah satunya melalui berbagai kegiatan di sekolah, meski pada saat bersamaan masih terdapat persoalan yang menimbulkan duka.

“Indonesia sudah merdeka 81 tahun,” kata Rizky. “Banyak kemajuan teknologi yang maju di Indonesia, tapi tidak menutup kemungkinan ada duka cita yang terjadi, seperti karhutla di Kalimantan Selatan.”

Rizky kemudian menyuarakan sisi lain kemerdekaan melalui puisinya berjudul “Air Mata di Balik Merah Putih”. Karya tersebut menggambarkan perayaan kemerdekaan yang diiringi keprihatinan terhadap kondisi masyarakat dan mempertanyakan kembali apakah kemerdekaan telah dirasakan secara utuh oleh seluruh rakyat.

Berbeda dengan Rizky, Legi Artisa mengaku suasana kemerdekaan tahun ini terasa lebih datar. Kesibukan dalam organisasi dan berbagai aktivitas membuat euforia perayaan tidak sepenuhnya ia rasakan, tetapi kondisi tersebut justru menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali hubungan antara kemerdekaan, tanggung jawab, dan persoalan yang masih dihadapi bangsa.

Legi juga menyampaikan bahwa merayakan kemerdekaan dan melakukan perenungan seharusnya dapat berjalan bersamaan. Menurutnya, masyarakat tetap dapat menikmati pencapaian bangsa selama 81 tahun sekaligus melakukan evaluasi terhadap berbagai persoalan yang masih terjadi.

“Kalau bisa keduanya, kenapa enggak,” ucap Legi. “Kita harus tetap merayakan apa yang sudah kita capai selama ini, dan kita juga harus merenungi apa yang sudah kita lakukan selama ini.”

Refleksi tersebut kemudian dituangkan Legi melalui puisi “Kalah Sebelum Merdeka”. Puisi itu mengangkat persoalan kebebasan dari belenggu perasaan dan hubungan yang tidak lagi diperjuangkan.

Bagi Legi, kemerdekaan tidak hanya memiliki makna dalam konteks bangsa, tetapi juga dapat dimaknai sebagai upaya membebaskan diri dari berbagai keterikatan yang menghambat seseorang untuk melangkah. Dengan demikian, makna kemerdekaan dapat hadir dalam kehidupan personal setiap individu.

Ketiganya juga menyoroti peran generasi muda dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di media sosial. Mereka mengingatkan pentingnya tabayun atau memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....