Menemukan Fragmen Islam dalam Kehidupan Sehari-hari

  • 06 Sep 2026 08:42 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Perjalanan beragama tidak hanya ditunjukkan melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui akhlak, cara menghadapi ujian, mensyukuri nikmat, dan menjalani kehidupan secara seimbang.
  • Ustaz Najmuel mengingatkan umat Islam agar tidak merasa lebih baik dibandingkan orang lain hanya karena memiliki ilmu agama yang lebih luas.
  • Semakin luas ilmu seseorang, semakin besar pula kesadaran bahwa pengetahuan manusia tetap terbatas dan tidak sempurna.

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Perjalanan beragama tidak hanya ditunjukkan melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui akhlak, cara menghadapi ujian, mensyukuri nikmat, dan menjalani kehidupan secara seimbang. Hal tersebut disampaikan Ustaz M. Najmuel Muttaqin, S.Sos.I. dalam siaran Hikmah Subuh RRI Pro4 Banjarmasin, Rabu, 2 September 2026.

Dalam tausiyah bertema “Menemukan Fragmen Islam di Titik Tertinggi Capaian Insan”, Ustaz Najmuel mengingatkan umat Islam agar tidak merasa lebih baik dibandingkan orang lain karena ilmu agama yang dimiliki. Menurutnya, semakin luas ilmu seseorang, semakin besar pula kesadaran bahwa pengetahuan manusia tetap terbatas.

“Allah Swt menyatakan bahwa ilmu yang didatangkan kepada manusia itu kecuali sedikit,” ujar Ustaz Najmuel. “Kita hanya secercah keilmuan daripada Allah Swt yang dibagi seluruh muka bumi.”

Ia mengatakan, ilmu agama seharusnya memberikan perubahan terhadap akhlak dan perilaku seseorang. Pemahaman terhadap ajaran Islam tidak cukup berhenti pada pengetahuan, tetapi harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, Rasulullah saw menyampaikan ajaran Islam dengan penekanan pada keimanan dan akhlak. Karena itu, umat Islam perlu melakukan introspeksi untuk melihat sejauh mana ajaran tersebut telah diterapkan, termasuk ketika menghadapi perbedaan dengan orang lain.

Ustaz Najmuel juga mengingatkan umat Islam agar tidak mudah berprasangka terhadap berbagai keadaan yang terjadi. Manusia tidak selalu mengetahui alasan di balik setiap peristiwa sehingga sikap bersyukur dan menerima ketetapan Allah menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan.

“Jangan sampai kita terlalu berambisi terhadap apa yang tidak mudah kita capai. Sesuatu yang mudah bisa saja kita lewatkan, tapi sesuatu yang sulit kita tempuh,” katanya.

Ia menambahkan, mengingat Allah tidak hanya dilakukan ketika seseorang sakit atau menghadapi persoalan. Kedekatan kepada Allah perlu dijaga dalam berbagai kondisi, termasuk saat memperoleh kesehatan, rezeki, dan kenyamanan.

Selain keimanan dan akhlak, Ustaz Najmuel menekankan pentingnya mengelola waktu secara seimbang. Ia mengutip pembagian waktu yang disampaikan Imam Al-Ghazali, yakni memberikan ruang untuk beristirahat, beribadah, dan bekerja.

Menurutnya, keseimbangan waktu penting diterapkan di tengah kebiasaan masyarakat modern yang membuat waktu istirahat semakin berkurang. Generasi muda juga diingatkan agar tidak mengorbankan waktu istirahat karena terlalu banyak menggunakan waktu untuk aktivitas digital.

Ustaz Najmuel juga mengajak umat Islam menjalani kehidupan secara sederhana dan tidak berlebihan. Keinginan tetap dapat dimiliki, tetapi perlu disesuaikan dengan kemampuan dan tidak menjadikan kehidupan dunia sebagai satu-satunya tujuan.

Ia mengajak untuk menemukan “fragmen Islam” dalam berbagai sisi kehidupan, mulai dari ibadah, akhlak, pekerjaan, keluarga, hingga pengelolaan waktu. Menurutnya, keberagamaan tidak hanya terlihat dari aktivitas spiritual, tetapi juga dari cara seseorang menjalani kehidupan dan memperlakukan sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....