Karhutla di Pengayuan Banjarbaru Ancam Permukiman Warga

  • 23 Agt 2026 09:28 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Kebakaran hutan dan lahan terjadi di kawasan Pengayuan, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru pada Jumat, 21 Agustus 2026.
  • Kobaran api sempat mengancam permukiman warga yang berada di tepi jalan utama sehingga memicu kekhawatiran bagi penghuni sekitar.
  • Warga Sarhanah menceritakan api mengelilingi rumahnya yang juga digunakan sebagai warung, dengan suara api awalnya dikira hujan deras.

RRI.CO.ID, Banjarbaru – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Pengayuan, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, terus memicu kekhawatiran warga. Kobaran api dilaporkan sempat mengancam permukiman warga yang berada di tepi jalan utama.

Salah seorang warga, Sarhanah, menceritakan kepungan api terjadi secara mendadak saat ia berada di dalam rumah pada Jumat, 21 Agustus 2026. Suara kobaran api semula dikira hujan deras, sebelum akhirnya ia menyadari api telah mengelilingi rumah yang sekaligus digunakan sebagai warung.

“Waktu itu asapnya masih jauh, jadi belum tahu apinya dekat rumah,” ujarnya kepada RRI, Minggu, 23 Agustus 2026. “Tiba-tiba bunyi kayak hujan, ternyata rumah sudah dikepung api.”

Peristiwa yang terjadi pada siang hari tersebut membuat api melompat menyeberangi jalan hingga mendekati permukiman di seberangnya. Asap tebal yang dengan cepat mengepul di lokasi bahkan membuat anak Sarhanah yang tinggal tepat di seberang jalan pingsan dan harus dievakuasi oleh tim relawan.

“Jadi, pas kejadian cuma bisa mengamankan diri sama anak yang kecil. Kalau anak saya yang di seberang rumah itu pingsan, akhirnya digotong relawan,” katanya.

Sarhanah menyebut insiden tersebut merupakan kebakaran dan paparan asap terparah selama tiga tahun terakhir sejak ia bermukim di kawasan Pengayuan. Meski bangunan rumahnya selamat dari kobaran api, mesin pompa air miliknya rusak parah akibat terbakar.

Kondisi tersebut membuat keluarganya kini bergantung pada pasokan air dari sumur tetangga yang debitnya juga semakin terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari, ia terpaksa membeli air bersih seharga Rp5.000 per 35 liter.

“Kami tidak menggunakan air leding, jadi masih memakai sumur. Sementara untuk memenuhi kebutuhan air, kami menumpang di tetangga dulu,” ucap Sarhanah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....