Hadapi Ancaman Krisis Air, Pemko Banjarmasin Siapkan Embung dan Jaringan Pipa
- 21 Agt 2026 09:28 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Pemerintah Kota Banjarmasin mempersiapkan strategi untuk mengantisipasi ancaman krisis air baku terutama pada musim kemarau yang dapat menyebabkan intrusi air laut ke sumber air sungai.
- Wali Kota H. M. Yamin HR mengadakan rapat bersama Balai Wilayah Sungai Kalimantan III dan kepala SKPD untuk membahas penguatan ketahanan air baku dan rencana pembangunan infrastruktur pengairan.
- Upaya yang dilakukan meliputi penguatan ketahanan air baku dan pembangunan infrastruktur pengairan sebagai solusi jangka panjang menghadapi ancaman krisis air di Kota Banjarmasin.
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Pemerintah Kota Banjarmasin mulai menyiapkan langkah strategis untuk mengantisipasi ancaman krisis air baku, terutama saat musim kemarau yang berpotensi memicu masuknya air laut ke sumber air sungai. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan ketahanan air baku dan pembangunan infrastruktur pengairan.
Wali Kota Banjarmasin H. M. Yamin HR menggelar rapat bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III dan sejumlah kepala SKPD terkait, Kamis, 20 Agustus 2026. Rapat tersebut secara khusus membahas penguatan ketahanan air baku sekaligus rencana pembangunan infrastruktur pengairan di Kota Banjarmasin.
Salah satu rencana yang menjadi perhatian adalah pembangunan embung di Pematang Panjang yang diproyeksikan sebagai cadangan air baku. Pemerintah juga merancang pembangunan jaringan pipa berdiameter 1.200 milimeter sepanjang sekitar 9,3 kilometer dari Pematang Panjang menuju Instalasi Pengolahan Air (IPA) 2 Pramuka.
Direktur Utama PAM Bandarmasih, Zulbadi, mengatakan rencana tersebut merupakan tindak lanjut arahan Wali Kota Banjarmasin untuk memastikan pasokan air baku tetap aman bagi masyarakat. Pembangunan embung dinilai penting sebagai salah satu upaya menyediakan cadangan air ketika menghadapi musim kemarau panjang.
“Pembangunan embung ini menjadi salah satu upaya untuk menyediakan cadangan air baku. Terutama ketika kita menghadapi musim kemarau panjang,” ujar Zulbadi.
Menurutnya, persoalan air baku menjadi semakin serius ketika debit sungai turun dan air laut berpotensi masuk ke sumber air baku melalui fenomena intrusi air laut. Jika kadar asin meningkat, kemampuan instalasi pengolahan air menjadi terbatas.
“IPA yang kita miliki itu cuma bisa untuk mengolah air sungai menjadi air minum, bukan mengolah air asin menjadi air minum,” ujarnya. “Karena itu, keberadaan embung dan jaringan pipa dari Pematang Panjang dinilai penting untuk mengamankan pasokan air baku sebelum kondisi semakin kritis.”
Rencana pembangunan tersebut berada di wilayah Banjarmasin Timur. Untuk merealisasikannya, pembiayaan diharapkan dapat diusulkan secara bertahap kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dengan melibatkan BWS Kalimantan III dan Pemko Banjarmasin.
Selain persoalan air baku, rapat juga membahas pembangunan infrastruktur irigasi yang diusulkan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Banjarmasin. Pembangunan tersebut khususnya diarahkan di kawasan Kelurahan Sungai Lulut, Kecamatan Banjarmasin Timur.
Koordinasi tersebut menjadi langkah awal Pemko Banjarmasin untuk mendorong berbagai kebutuhan infrastruktur pengairan masuk dalam skema pembangunan pemerintah secara bertahap. Pemko menilai penguatan infrastruktur air tidak lagi sekadar kebutuhan teknis, tetapi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan pelayanan air bersih bagi warga di tengah ancaman perubahan kondisi sumber air.
Dengan rencana pembangunan embung dan jaringan pipa sepanjang 9,3 kilometer, Pemko Banjarmasin mulai menyiapkan sistem cadangan air baku. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan pasokan air sebelum musim kemarau kembali menguji kondisi sumber air baku Kota Banjarmasin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....