Makna “Jangan Takuyak Kunat”, Istilah Banjar tentang Luka dan Kesabaran
- 21 Agt 2026 09:42 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Istilah Banjar 'Jangan Takuyak Kunat' menjadi pembahasan utama dalam program Hikmah Subuh RRI Pro4 Banjarmasin pada Rabu, 19 Agustus 2026.
- Kata 'kunat' dalam bahasa Banjar merujuk pada luka yang sudah mengering di permukaan tetapi belum sepenuhnya pulih di bagian dalamnya.
- Istilah ini merupakan perumpamaan untuk menggambarkan kondisi seseorang yang menghadapi kesedihan, masalah, atau luka batin yang memerlukan proses penyembuhan tanpa gangguan.
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Istilah Banjar “Jangan Takuyak Kunat” menjadi topik pembahasan dalam program Hikmah Subuh RRI Pro4 Banjarmasin, Rabu, 19 Agustus 2026. Istilah tersebut dimaknai sebagai pesan agar seseorang tidak kembali membuka luka yang sedang dalam proses penyembuhan.
Dalam bahasa Banjar, kunat menggambarkan luka yang telah mengering di permukaan, tetapi bagian dalamnya belum sepenuhnya pulih. Ketika rasa gatal mendorong seseorang menggaruknya, luka tersebut dapat kembali terbuka dan perumpamaan ini kemudian dikaitkan dengan kondisi seseorang yang sedang menghadapi kesedihan, masalah, maupun pengalaman yang meninggalkan luka batin.
Narasumber Hikmah Subuh, Ustaz Muhammad Taslimurrahman, Lc., M.Pd., menjelaskan bahwa menghadapi kesedihan atau persoalan hidup bukan berarti melupakan masalah begitu saja. Menurutnya, masalah perlu dihadapi dan diselesaikan agar seseorang dapat kembali beradaptasi, pulih, dan berkembang.
“Kesedihan itu bukan dihilangkan, tetapi memang dirasakan dan diselesaikan. Dengan begitu, kita bisa melangkah lebih baik,” ujar Ustaz Taslimurrahman.
Ia mengaitkan proses tersebut dengan konsep resiliensi, yakni kemampuan seseorang untuk kembali beradaptasi dan berfungsi setelah menghadapi kesulitan. Dalam prosesnya, seseorang perlu mengenali guncangan yang dialami, beradaptasi, menjalani pemulihan, hingga akhirnya mampu bertumbuh.
Ustaz Taslim juga mengingatkan pentingnya kesabaran ketika menghadapi persoalan. Menurutnya, sikap terburu-buru dan panik justru dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk melihat solusi secara lebih jernih.
“Ketika kita tergesa-gesa, ketika kita panik, akan buyar semua solusi yang ada. Karena itu, kita perlu tenang agar dapat melihat dan menemukan solusi dengan lebih jernih,” katanya.
Hal tersebut juga relevan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika menghadapi persoalan di media sosial. Ustaz Taslim mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru memberikan tanggapan hanya berdasarkan potongan video, informasi, atau konteks yang belum diketahui secara utuh.
Ia menekankan, seseorang perlu memahami kondisi orang lain sebelum memberikan penilaian. Sebab, seseorang yang terlihat baik-baik saja belum tentu benar-benar telah pulih dari luka yang pernah dialaminya.
“Jangan terburu-buru untuk menghakimi, jangan terburu-buru melihat luarnya saja. Kita harus melihat lebih dalam,” ucapnya.
Melalui istilah “Jangan Takuyak Kunat”, Ustaz Taslim juga mengajak umat Islam untuk belajar memahami kapan harus bertindak dan kapan sebaiknya diam. Hal tersebut sejalan dengan pesan Rasulullah saw agar seseorang berkata baik atau memilih diam ketika tidak mampu memberikan sesuatu yang bermanfaat.
Menurutnya, kehadiran seorang muslim idealnya memberikan rasa aman bagi orang-orang di sekitarnya. Karena itu, ketika berhadapan dengan seseorang yang sedang mengalami musibah atau persoalan, sikap empati, memahami situasi, memberikan dukungan, dan tidak menambah beban menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan sesama manusia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....