Makna “Kaya Manjuhut Rambut di Galapung” dalam Budaya Banjar

  • 19 Agt 2026 13:24 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Masyarakat Banjar memiliki beragam ungkapan yang mengandung nilai-nilai kehidupan mendalam, termasuk ungkapan
  • Program Ragam Budaya Bacangkurah RRI Pro4 Banjarmasin pada 14 Agustus 2026 menghadirkan pembahasan mendalam tentang filosofi dan makna ungkapan tradisional Banjar tersebut.
  • Noorhalis Majid berperan sebagai narasumber untuk menjelaskan filosofi ungkapan Banjar dan nilai-nilai kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya kepada masyarakat.

RRI.CO.ID, Banjarmasin: Masyarakat Banjar memiliki beragam ungkapan yang tidak hanya indah secara bahasa, tetapi juga sarat dengan nilai kehidupan. Salah satunya adalah “kaya manjuhut rambut di galapung, rambut kada pagat, galapung kada tahambur” yang mengajarkan pentingnya kehati-hatian dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan persoalan.

Makna ungkapan tersebut menjadi pembahasan dalam program Ragam Budaya Bacangkurah RRI Pro4 Banjarmasin, Jumat, 14 Agustus 2026, dengan tema “Kaya Manjuhut Rambut di Galapung”. Siaran tersebut menghadirkan Noorhalis Majid sebagai narasumber yang menjelaskan filosofi ungkapan tersebut.

Secara harfiah, ungkapan itu menggambarkan cara menarik rambut dari tumpukan tepung tanpa membuat rambut putus maupun tepung berhamburan. Filosofi tersebut menjadi gambaran tentang cara menghadapi persoalan secara hati-hati dan cermat agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

“Seperti menarik rambut pada tumpukan tepung, rambut jangan sampai putus dan tepung jangan sampai berhamburan,” ujarnya. “Ini menggambarkan bagaimana kita menyelesaikan persoalan dengan sangat hati-hati sehingga tidak ada yang dirugikan.”

Menurut Noorhalis, persoalan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Selama interaksi antarmanusia terus berlangsung, perbedaan kepentingan dan pandangan akan selalu ada sehingga diperlukan sikap bijaksana agar persoalan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Ia menekankan bahwa pengetahuan dan pengalaman saja belum cukup untuk menyelesaikan persoalan. Diperlukan pula kerendahan hati dan kemampuan memahami kepentingan pihak lain agar keputusan dapat diterima bersama.

“Kematangan menghadapi masalah bukan hanya didasari pengetahuan dan pengalaman,” ucapnya. “Namun, juga membutuhkan kerendahan hati dan sikap akomodatif sehingga keputusan dapat diterima oleh semua pihak.”

Lebih jauh, ungkapan tersebut menjadi pengingat agar masyarakat tidak terjebak pada sikap ingin menang sendiri. Penyelesaian persoalan seharusnya tidak berorientasi pada siapa yang menang atau kalah, tetapi bagaimana menemukan jalan keluar yang tetap menjaga hubungan dan keharmonisan bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....