Selawat kepada Nabi sebagai Bukti Cinta dan Keteladanan

  • 20 Agt 2026 14:09 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Perintah berselawat kepada Nabi Muhammad saw memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam karena Allah Swt. dan para malaikat terlebih dahulu berselawat sebelum perintah itu ditujukan kepada orang-orang beriman.
  • Menurut Prof. Dr. H. Faisal Mubarak Seff, selawat dari Allah Swt. bermakna limpahan rahmat kepada Nabi Muhammad saw.
  • Selawat dari para malaikat merupakan bentuk permohonan ampunan bagi Nabi Muhammad saw sebagai makna dari ayat tersebut.

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Perintah berselawat kepada Nabi Muhammad saw memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Keistimewaan tersebut terlihat dari Allah Swt. dan para malaikat yang terlebih dahulu berselawat sebelum perintah itu ditujukan kepada orang-orang beriman.

Akademisi UIN Antasari Banjarmasin, Ustaz Prof. Dr. H. Faisal Mubarak Seff, Lc., M.A., dalam siaran Kuliah Subuh RRI Pro1 Banjarmasin, Rabu, 19 Agustus 2026, menjelaskan makna Surah Al-Ahzab ayat 56. Menurutnya, selawat dari Allah Swt. bermakna limpahan rahmat, sedangkan selawat para malaikat merupakan permohonan ampunan bagi Nabi Muhammad saw.

"Perintah berselawat kepada Nabi mengandung makna spiritual yang mendalam. Hal ini membedakan hubungan antara Sang Pencipta, malaikat, dan orang beriman," ujarnya.

Prof. Faisal menjelaskan, berdasarkan asbabun nuzul, ayat tersebut diturunkan di Madinah sebagai bentuk penegasan atas kemuliaan Rasulullah saw. Ayat ini sekaligus menjadi jawaban terhadap berbagai tuduhan tidak berdasar yang dilontarkan kaum munafik kepada Rasulullah.

Pembacaan selawat menjadi wujud penghormatan dan kecintaan umat Islam kepada Nabi Muhammad saw. Namun, kecintaan tersebut tidak seharusnya berhenti pada ucapan, melainkan diwujudkan dengan mempelajari sirah nabawiyah dan meneladani akhlak Rasulullah.

"Mengenal sirah nabawiyah secara mendalam menjadi kunci agar rasa cinta kepada Nabi tumbuh menjadi keteladanan nyata,” kata Prof. Faisal. Dengan memahami perjalanan hidup beliau, umat dapat menerapkan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.”

Prof. Faisal juga mengimbau masyarakat untuk menjaga tutur kata serta menghindari perselisihan dengan sesama. Menurutnya, meneladani Rasulullah saw berarti mengedepankan sikap pemaaf, kasih sayang, dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

Keberkahan selawat diharapkan tidak hanya dirasakan dalam hubungan spiritual antara manusia dengan Allah Swt. Nilai tersebut juga perlu tercermin melalui perilaku yang membawa kedamaian, kebaikan, dan kemanfaatan bagi orang lain.

Dengan demikian, memperbanyak selawat hendaknya berjalan seiring dengan upaya memahami kehidupan Rasulullah saw. Kecintaan kepada Nabi akan semakin bermakna ketika diwujudkan melalui keteladanan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....