Menjemput Ampunan Allah dengan Meneladani Rasulullah
- 14 Agt 2026 19:27 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Taubat sejati tidak hanya sekadar memohon ampun kepada Allah, tetapi juga harus disertai dengan upaya nyata memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
- Setiap manusia tidak terlepas dari kesalahan, sehingga menjadikan taubat sebagai kesempatan penting untuk memperbaiki diri secara menyeluruh.
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Umat Islam diingatkan untuk tidak berputus asa dari ampunan Allah Swt. Taubat tidak hanya diwujudkan dengan memohon ampun, tetapi juga melalui upaya memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Hal tersebut disampaikan oleh Ustaz Drs. H. Hajaji, M.Pd.I., C.P.S. dalam acara Hikmah Subuh di RRI Pro4 Banjarmasin, Jumat, 14 Agustus 2026. Menurutnya, setiap manusia tidak luput dari kesalahan sehingga pintu taubat harus dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri.
Ia menjelaskan umat Islam tidak perlu merasa dosa yang dilakukan terlalu banyak untuk mendapatkan ampunan Allah Swt. Selama seseorang masih hidup, kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri tetap terbuka.
“Jangan merasa dosa terlalu banyak,” ujar Ustaz Hajaji. “Selama kita hidup, pintu taubat selalu terbuka dan sebanyak apa pun dosa yang ada, Allah Swt Maha Pengampun.”
Ustaz Hajaji menjelaskan memohon ampun kepada Allah Swt juga harus diwujudkan dengan memperbaiki hubungan dengan sesama. Jika seseorang pernah melakukan fitnah, menyakiti orang lain, mengambil hak orang lain, atau memiliki utang, hal tersebut perlu diselesaikan.
Ia juga menegaskan Rasulullah saw merupakan teladan dalam membangun kehidupan yang damai dan penuh kasih sayang. Menurutnya, Nabi Muhammad saw diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam sehingga umatnya juga dituntut menghadirkan kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya.
“Bukan cuma ucapan, salah satu bukti cinta kita kepada Rasulullah saw adalah meneladani akhlaknya. Kita harus berusaha menghadirkan ketenangan, persatuan, dan kasih sayang dalam kehidupan,” katanya.
Ia menambahkan kedamaian dapat dimulai dari kemampuan mengendalikan diri, terutama ketika menghadapi kemarahan dan perbedaan. Sikap memaafkan, menjaga persatuan, serta menebarkan kebaikan menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang harmonis.
Ustaz Hajaji juga mengajak umat Islam menjaga lisan, termasuk dalam menggunakan media sosial agar tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Menurutnya, setiap informasi perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum disampaikan kepada orang lain.
“Sebelum berkomentar, biasakan tabayun terlebih dahulu,” ucapnya. “Jangan sampai lisan dan tulisan kita justru menyakiti atau merugikan orang lain.”
Menutup tausiyah, Ustaz Hajaji mengajak umat Islam menjadikan taubat sebagai perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, upaya menjemput ampunan Allah Swt harus disertai dengan memperbaiki diri dan hubungan dengan sesama serta menjadikan akhlak Rasulullah saw sebagai teladan.
“Terus memperbaiki diri dan hubungan dengan orang lain. Mari jadikan akhlak Rasulullah saw sebagai teladan dalam kehidupan,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....