Kegagalan Bukan Akhir, Remaja Perlu Berani Bangkit
- 17 Agt 2026 18:19 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Proses menuju kedewasaan remaja sering dihadapi dengan berbagai tantangan dan kegagalan yang menguji ketahanan mental mereka.
- Nur Khadijah, Duta Genre Inovator Putri Kota Banjarmasin 2026, menekankan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan hidup melainkan awal pembelajaran.
- Pengalaman kegagalan dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk evaluasi diri dan memperbaiki kekurangan guna pertumbuhan pribadi yang lebih baik.
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Proses menuju kedewasaan kerap diwarnai berbagai tantangan dan kegagalan yang menguji ketahanan mental remaja. Kemampuan untuk bangkit dan kembali mencoba menjadi bagian penting dalam menghadapi fase kehidupan di usia muda.
Duta Genre Inovator Putri Kota Banjarmasin 2026, Nur Khadijah, dalam siaran "Inspirasi Kehidupan" RRI Pro1 Banjarmasin, Sabtu, 15 Agustus 2026, mengatakan kegagalan bukan akhir dari perjalanan. Pengalaman tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki kekurangan.
"Kegagalan harus dimaknai sebagai pelajaran untuk memperbaiki kekurangan agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama," ujarnya. “Dari kegagalan, kita bisa mengetahui apa yang perlu diperbaiki untuk menjadi lebih baik.”
Hal serupa disampaikan Duta Genre Favorit Putri Kota Banjarmasin 2026, Nurlaili Hapsari, yang pernah beberapa kali gagal masuk perguruan tinggi. Menurutnya, dukungan teman menjadi salah satu kekuatan untuk menerima kegagalan sekaligus membangun keberanian mencoba kembali.
"Kita perlu berani mencoba dan menerobos rasa takut karena setiap perjalanan kegagalan pasti menyimpan hikmah berharga," ucapnya. “Jangan sampai rasa takut membuat kita berhenti melangkah dan mencoba kembali.”
Praktisi Parenting dan Keluarga, Rimalia Karim, menjelaskan kemampuan mengelola emosi menjadi kunci dalam menghadapi kegagalan. Remaja membutuhkan ruang yang aman untuk mengekspresikan kesedihan secara wajar sebelum kembali bangkit dan melanjutkan langkah.
"Proses menerima kegagalan membutuhkan waktu dan kematangan emosi yang dapat dilatih melalui interaksi sosial yang sehat," katanya. “Remaja perlu diberi ruang untuk merasakan dan memahami emosinya sebelum kembali melangkah.”
Rimalia menilai dukungan orang tua juga berperan penting ketika anak menghadapi kegagalan. Dialog yang terbuka dan konstruktif di lingkungan keluarga dapat membantu mengurangi tekanan mental yang dirasakan remaja, terutama ketika menghadapi persoalan pendidikan maupun pergaulan.
Orang tua diharapkan tidak terburu-buru menghakimi ketika anak mengalami kegagalan. Sebaliknya, penerimaan dan dukungan dapat memberikan rasa aman sehingga anak memiliki keberanian untuk mengevaluasi diri dan mencoba kembali.
Selain itu, keterlibatan dalam organisasi dinilai dapat melatih keberanian remaja menghadapi berbagai tantangan. Pengalaman berorganisasi membantu mereka beradaptasi dengan beragam karakter, menerima kritik, mengambil keputusan, serta membangun jaringan pertemanan yang positif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....