Distan Banjar Siapkan Strategi Hadapi Dampak Kemarau dan Perubahan Iklim
- 12 Agt 2026 09:43 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Martapura - Dinas Pertanian Kabupaten Banjar melalui Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura melakukan langkah antisipasi menghadapi ancaman cuaca ekstrem dan dampak perubahan iklim. Upaya tersebut diwujudkan melalui aksi penanganan dampak perubahan iklim yang dipusatkan di lahan Kelompok Tani Mufakat, Desa Sungai Tabuk Keramat, Kecamatan Sungai Tabuk, Selasa, 11 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut dilakukan di kawasan persawahan yang berada di tepi sungai dengan melibatkan jajaran Dinas Pertanian dan para petani. Salah satu kegiatan utama adalah membersihkan aliran sungai dari gulma dan rumput liar yang berpotensi menghambat kelancaran aliran air menuju lahan pertanian.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Warsita, hadir bersama Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Nurul Chatimah, jajaran staf, Koordinator Penyuluh, PPL Sungai Tabuk, serta petani Kelompok Tani Mufakat. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas pertanian sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan petani menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu.
Warsita mengingatkan perubahan iklim dapat meningkatkan berbagai risiko bagi sektor pertanian, termasuk kebakaran hutan dan lahan serta cuaca panas ekstrem akibat musim kemarau panjang. Ia berharap kegiatan penanganan dampak perubahan iklim dapat memperkuat kesadaran dan semangat gotong royong antara pemerintah, penyuluh, dan petani.
Sementara itu, Nurul Chatimah menjelaskan kondisi musim kemarau tahun ini menjadi tantangan bagi petani karena berlangsung lebih panjang dan datang lebih awal. Berdasarkan data BMKG, curah hujan yang terjadi juga sangat minim dan sebagian besar hanya membasahi permukaan tanah.
Menghadapi kondisi tersebut, Dinas Pertanian Kabupaten Banjar menyiapkan sejumlah langkah untuk membantu petani mempertahankan produktivitas lahan. Strategi yang dilakukan antara lain penggunaan varietas padi unggul yang lebih sesuai dengan kondisi kering, pemanfaatan mesin pompa air, serta normalisasi saluran irigasi.
Selain itu, petani mulai diarahkan menerapkan teknik budidaya dengan penggunaan air secara efisien. Salah satunya melalui sistem irigasi tetes atau drip irrigation yang menyalurkan air secara perlahan dan langsung menuju akar tanaman melalui jaringan pipa kecil.
Upaya tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi risiko gagal panen akibat keterbatasan air selama musim kemarau. Pemilihan varietas yang memiliki toleransi terhadap kondisi kekeringan juga menjadi salah satu strategi penting dalam menjaga produksi padi.
“Selain varietas lokal, petani dianjurkan menanam varietas padi yang terkenal tangguh terhadap kekeringan seperti Inpari 38 Tadah Hujan, Padjadjaran, dan Situ Bagendit yang terbukti toleran di tengah minimnya pasokan air,” ujar Nurul.
Dinas Pertanian Kabupaten Banjar bersama penyuluh dan kelompok tani akan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi lahan pertanian selama musim kemarau. Pendampingan juga dilakukan agar petani dapat memilih metode budidaya dan pengelolaan air yang sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.
Melalui berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap produktivitas pertanian tetap terjaga meski menghadapi tekanan akibat perubahan iklim dan keterbatasan air. Kolaborasi antara pemerintah dan petani dinilai penting untuk memastikan ketahanan pangan daerah tetap terjaga di tengah kondisi cuaca ekstrem.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....