Etika Berbahasa Digital Dukung Edukasi Kesehatan Masyarakat
- 06 Agt 2026 08:51 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Etika berbahasa di ruang digital merupakan aspek penting bagi tenaga kesehatan dalam membangun komunikasi yang edukatif, santun, dan berempati kepada masyarakat.
- Penggunaan bahasa yang tepat mampu memperkuat kepercayaan publik sekaligus menjaga martabat profesi kesehatan.
- Tenaga kesehatan memiliki peran ganda sebagai komunikator sekaligus edukator sehingga dituntut mampu berkomunikasi secara profesional di ruang digital.
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Etika berbahasa di ruang digital menjadi aspek penting yang perlu dimiliki tenaga kesehatan dalam membangun komunikasi yang edukatif, santun, dan berempati kepada masyarakat. Penggunaan bahasa yang tepat dinilai mampu memperkuat kepercayaan publik sekaligus menjaga martabat profesi.
Hal tersebut disampaikan Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, Ridha Nazharullah, M.Pd., kepada RRI Banjarmasin, Kamis, 6 Agustus 2026. Ridha mengatakan tenaga kesehatan memiliki peran sebagai komunikator sekaligus edukator sehingga dituntut mampu berkomunikasi secara profesional di ruang digital.
Ridha menjelaskan etika berbahasa digital dapat dipahami melalui perspektif pragmatik Geoffrey Leech, khususnya Politeness Principle yang menekankan pentingnya kesantunan dalam berkomunikasi. Prinsip tersebut tercermin, antara lain, dalam Maksim Kebijaksanaan (Tact Maxim) dan Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim).
Ia mengatakan penerapan prinsip kesantunan berbahasa di media sosial dapat mendukung komunikasi yang lebih konstruktif. Pendekatan tersebut penting ketika tenaga kesehatan menyampaikan informasi maupun merespons pertanyaan, kritik, dan masukan dari masyarakat.
Ridha menilai penguatan literasi digital dan pendidikan karakter perlu dilakukan sejak masa pendidikan. Langkah tersebut bertujuan membentuk calon tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi komunikasi selaras dengan etika profesi.
Ia menegaskan ruang digital di bidang kesehatan harus bebas dari arogansi intelektual serta menghargai beragam tingkat pemahaman masyarakat. Tenaga kesehatan juga perlu menghindari eksploitasi kondisi pasien demi popularitas maupun pelampiasan emosi sesaat.
| Baca juga: Tidur Cukup, Kunci Menjaga Kesehatan Tubuh |
Ridha mengatakan media sosial memiliki potensi besar sebagai sarana edukasi kesehatan apabila dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Menurutnya, perpaduan kesantunan linguistik dan pendidikan karakter dapat menjadikan media sosial sebagai ruang pembelajaran kesehatan yang aman, edukatif, dan penuh empati.
Ia menambahkan tenaga kesehatan maupun calon tenaga kesehatan perlu terus mengembangkan kemampuan komunikasi profesional. Upaya tersebut mencakup menjaga kerahasiaan informasi pasien, menghormati etika profesi, serta mengedepankan empati dalam setiap interaksi di ruang digital.
Ridha berharap media sosial semakin dimanfaatkan sebagai sarana edukasi kesehatan yang informatif, inklusif, dan bertanggung jawab. Ia juga berharap komunikasi antara tenaga kesehatan dan masyarakat dapat berlangsung secara santun, profesional, dan saling menghormati.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....