Resiliensi Mahasiswa: Kunci Tangguh Hadapi Tekanan Kuliah

  • 29 Jul 2026 07:06 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin: Mahasiswa kerap disebut sebagai generasi penerus dan agen perubahan, namun di balik harapan besar itu mereka juga menghadapi tekanan berat mulai dari tuntutan akademik, masalah ekonomi, konflik pertemanan, hingga kecemasan terhadap masa depan. Kondisi tersebut membuat kemampuan bertahan dan bangkit dari kesulitan, atau resiliensi, menjadi bekal penting yang harus dimiliki mahasiswa selain kecerdasan intelektual semata.

Persoalan itu mengemuka dalam pembahasan mengenai pentingnya resiliensi diri mahasiswa yang ditinjau dari sudut pandang psikologi Islam. Hal ini disampaikan oleh Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Dina Aprilia, M.Psi., Psikolog sebagai narasumber pada acara Siaran Keagamaan di RRI Pro 2 Banjarmasin, Selasa 28 Juli 2026.

Dina menjelaskan bahwa resiliensi dalam pandangan psikologi Islam tak hanya bertumpu pada kekuatan pribadi, melainkan juga pada kedekatan seorang hamba dengan Allah Swt. Menurutnya, seorang muslim meyakini bahwa setiap kesulitan yang datang bukan tanpa alasan, melainkan menyimpan makna tersendiri bagi kehidupannya.

"Setiap ujian yang dihadapi seorang muslim memiliki hikmah dan menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas diri," ujarnya.

Lebih lanjut, ia memaparkan empat pilar utama pembentuk resiliensi dalam perspektif psikologi Islam, yakni iman, sabar, tawakal, dan syukur. Keempat nilai tersebut menjadi pondasi bagi mahasiswa untuk memaknai kegagalan sebagai pelajaran, mengendalikan emosi, menyerahkan hasil usaha kepada Allah, serta senantiasa bersyukur atas nikmat yang dimiliki.

"Dukungan keluarga, sahabat, dosen, dan lingkungan yang positif menjadi faktor penting dalam memperkuat resiliensi mahasiswa," katanya.

Selain hubungan sosial yang positif, Dina menekankan pentingnya mahasiswa memiliki tujuan hidup yang jelas agar setiap proses perkuliahan terasa bermakna. Pola pikir berkembang atau growth mindset juga perlu dibangun agar mahasiswa meyakini bahwa kemampuan dapat terus diasah melalui belajar dan usaha.

Tak kalah penting, kesehatan fisik dan mental harus dijaga dengan istirahat yang cukup, manajemen waktu yang baik, serta keberanian meminta bantuan saat menghadapi masalah. Ia menambahkan, mendekatkan diri kepada Allah melalui salat, membaca Al-Qur'an, zikir, dan doa turut menjadi fondasi utama dalam membangun ketangguhan mahasiswa.

Dina mengingatkan bahwa menjadi mahasiswa bukan berarti harus selalu terlihat kuat dan tak pernah lelah menghadapi tekanan. Ketangguhan sejati justru terlihat ketika seseorang mampu bangkit setelah terpuruk, terus belajar, dan semakin mendekat kepada Sang Pencipta.

Dengan memadukan iman, sabar, ikhtiar, tawakal, dan syukur, setiap mahasiswa diyakini mampu tumbuh menjadi pribadi yang resilien, berprestasi, dan bermanfaat bagi masyarakat. Materi seputar resiliensi diri ini diharapkan dapat menjadi bekal spiritual sekaligus psikologis bagi mahasiswa dalam menjalani dinamika perkuliahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....