Tradisi Kurban Masyarakat Banjar Sarat Nilai Budaya dan Gotong Royong

  • 26 Mei 2026 07:25 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Tradisi masyarakat Banjar saat Iduladha meliputi seluruh proses, mulai dari persiapan sebelum penyembelihan hingga pembagian daging kurban. Hal tersebut dibahas oleh Faisal Embron dan Ibrahim, S.H., dalam program Ragam Budaya Suluh Banua RRI Pro4 Banjarmasin, Minggu, 24 Mei 2026.

Faisal menjelaskan bahwa masyarakat Banjar yang menjadi panitia kurban biasanya telah menyiapkan berbagai peralatan sejak beberapa bulan sebelum Iduladha. Salah satu alat utama yang dipersiapkan adalah parang atau pisau yang terus diasah agar tajam sehingga proses penyembelihan berjalan lancar.

Sebelum disembelih, hewan kurban seperti sapi atau kerbau akan dimandikan terlebih dahulu oleh warga. Selain itu, masyarakat juga menjaga hewan tersebut selama beberapa malam sebelum penyembelihan agar tidak kelaparan, terhindar dari gigitan nyamuk, serta tidak mengalami cacat atau cedera.

Faisal menambahkan, dalam tradisi masyarakat Banjar terdapat ritual baandak piduduk pada Hari Raya Kurban. Ritual tersebut berupa penyajian mahar dalam satu wadah yang berisi beras, kelapa tua, beras ketan, serta gula merah atau gula aren.

Setelah dimandikan, hewan kurban akan direbahkan untuk menjalani prosesi tepung tawar serta dibaluri minyak harum dan daun pudak. Bahkan, di beberapa daerah terdapat tradisi unik berupa pemberian bedak atau pupur basah pada sapi kurban.

“Hewan kurban sangat diistimewakan sebelum disembelih,” kata Faisal. “Hal ini merupakan bentuk akulturasi budaya lama sekaligus simbol persembahan suci kepada Allah Swt.”

Sementara itu, Ibrahim menjelaskan bahwa penyembelihan hewan kurban tidak boleh dilakukan sembarang orang. Tugas tersebut biasanya dipercayakan kepada sosok yang ahli dan dihormati masyarakat, seperti tokoh agama atau tuan guru.

“Orang yang menyembelih tidak boleh seseorang yang takut atau tidak tega,” ujar Ibrahim. “Kalau memang tidak tega mengonsumsinya, maka lebih baik tidak perlu dimakan.”

Ia juga menambahkan bahwa kaum perempuan memiliki peran penting dalam tradisi kurban masyarakat Banjar. Mereka biasanya bertugas memasak bagian tulangan hewan kurban untuk disajikan kepada warga yang bergotong royong di lokasi penyembelihan.

Berbagai tradisi tersebut menunjukkan bahwa budaya Banjar masih lestari dan berjalan beriringan dengan nilai-nilai keagamaan. Tradisi itu juga dinilai mampu memperkuat rasa kebersamaan dan semangat gotong royong di tengah masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....