Etika Budaya Banjar Ajarkan Pentingnya Menjaga Lisan dari Gibah

  • 17 Mei 2026 19:35 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Dalam bahasa Banjar, kata “menyambat” berarti menyebut, sedangkan “menyambati” bermakna menyebut-nyebut atau membicarakan aib serta keburukan orang lain. Hal tersebut dibahas oleh Akademisi UIN Antasari, Prof. Dr. H. Wardani, M.Ag., bersama mahasiswanya, Muhammad Aldiro Rayhandi, dalam program Pandiran Baisukan RRI Pro4 Banjarmasin, Jumat, 15 Mei 2026.

Menurut Prof. Wardani, aktivitas gibah atau menggunjing saat ini sudah menjadi kebiasaan yang umum terjadi di tengah masyarakat. Fenomena tersebut tidak hanya ditemukan di lingkungan pedesaan, tetapi juga marak di kawasan perkotaan hingga media sosial.

Ia menjelaskan bahwa budaya menggibah di masyarakat Banjar dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya struktur sosial masyarakat pedesaan pada masa lalu. Kedekatan hubungan antarwarga membuat berbagai persoalan pribadi lebih mudah menjadi bahan pembicaraan bersama.

“Pada awalnya, hal ini berkaitan dengan struktur sosial dan ekonomi masyarakat pedesaan,” ujarnya. “Masyarakat desa memiliki hubungan yang sangat dekat antartetangga sehingga berbagai informasi cepat menyebar.”

Selain faktor sosial, tingkat religiusitas seseorang juga dinilai dapat memengaruhi kebiasaan menyambati orang lain. Menurutnya, tidak sedikit orang yang menggunakan pengetahuan agama untuk mengomentari bahkan menghakimi kehidupan orang lain.

Prof. Wardani menambahkan bahwa di era digital, ruang pergunjingan telah bergeser dari teras rumah ke media sosial seperti WhatsApp, Instagram, dan Facebook. Akibatnya, rumor maupun pembicaraan negatif dapat menyebar lebih cepat dan menjangkau lebih banyak orang.

Sementara itu, Rayhandi menilai bahwa dalam etika Banjar, menyambati orang lain bukan sekadar persoalan sopan santun, melainkan juga mencerminkan kualitas iman dan adab seseorang. Dalam budaya Banjar, etika dan kehormatan dianggap sebagai nilai yang sangat berharga dalam kehidupan bermasyarakat.

“Orang tua dahulu selalu mengatakan bahwa adab itu di atas ilmu,” kata Rayhandi. “Artinya, setinggi apa pun pendidikan atau jabatan seseorang, jika lisannya masih suka merendahkan orang lain, maka hal itu justru menunjukkan kehinaan dirinya.”

Kedua narasumber mengimbau masyarakat agar menghindari kebiasaan menggunjing, mengolok-olok, maupun menggibah orang lain. Menurut mereka, seseorang yang gemar menggibah sejatinya sedang memperlihatkan keburukan hati dengan merendahkan orang lain demi merasa lebih tinggi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....