Janji Bertahun-Tahun! Jalan Sungai Jelai Tetap Hancur

  • 16 Mei 2026 13:43 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Kerusakan Jalan Sungai Jelai di Kelurahan Basirih Selatan, Kecamatan Banjarmasin Selatan, kembali memantik sorotan. Sudah bertahun-tahun dikeluhkan warga dan berkali-kali masuk wacana perbaikan, namun hingga kini kondisi jalan sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer itu masih jauh dari kata layak.

Jalan yang menjadi urat nadi aktivitas warga tersebut tampak rusak parah, berlumpur, sempit, bahkan kerap tenggelam saat air pasang. Ironisnya, akses itu juga menjadi jalur utama menuju SDN Basirih 10 yang setiap hari dilalui para pelajar.

Selain menjadi akses pendidikan, Jalan Sungai Jelai juga merupakan satu-satunya jalur darat masyarakat untuk beraktivitas selain menggunakan transportasi sungai. Kondisi itu membuat mobilitas warga terganggu setiap hari, terutama saat hujan turun atau air sungai pasang.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) sempat menyampaikan rencana peningkatan akses jalan secara bertahap. Program tersebut disebut meliputi pengerasan, peninggian badan jalan hingga peningkatan kualitas infrastruktur agar kendaraan roda dua maupun roda empat dapat melintas dengan lebih mudah.

Namun hingga pertengahan 2026, realisasi proyek tersebut belum juga terlihat di lapangan. Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas PUPR Kota Banjarmasin, Kartika Estaurina, mengakui penanganan jalan di kawasan itu masih terkendala sejumlah persoalan teknis.

“Jalan di sana menjadi akses warga satu-satunya untuk beraktivitas. Selain lewat sungai, yang menghubungkan Kota Banjarmasin ke Kabupaten Banjar,” ujarnya.

Kartika menjelaskan, sempitnya ruas jalan membuat mobilisasi alat berat dan material pembangunan sangat sulit dilakukan. Tak hanya itu, pihak PUPR juga berharap adanya dukungan warga berupa hibah lahan agar pelebaran jalan dapat direalisasikan.

“Pemerintah berharap warga bisa menghibahkan tanahnya untuk jalan agar akses jalan bisa diperlebar. Sehingga alat dan bahan yang digunakan lebih mudah dimobilisasi,” ucapnya.

Situasi itu sudah berlangsung bertahun-tahun dan seharusnya telah menjadi bahan perencanaan matang pemerintah sejak lama. Di sisi lain, warga tetap dipaksa bertahan menggunakan jalan rusak setiap hari demi bekerja, sekolah, hingga menjalankan aktivitas ekonomi.

Pertanyaan pun mengemuka, sampai kapan masyarakat harus menunggu jalan yang layak sementara janji perbaikan terus diulang tanpa kepastian realisasi. Kartika memastikan pihaknya masih akan melakukan koordinasi lanjutan terkait penanganan ruas jalan tersebut.

“Akan kami koordinasikan lagi terkait rencana penanganan di ruas jalan ini. Semoga bisa kita tangani secepatnya,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....