Warung Tua Masih Menjadi Penjaga Kehidupan

  • 13 Mei 2026 06:57 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID,Banjarmasin - Siang itu awan kelabu masih menggantung rendah di langit Bumi Antasari. Asap tipis perlahan mengepul dari kompor minyak tua yang setia memanaskan air untuk secangkir kopi. Di tengah deru kendaraan Jalan Ahmad Yani, sebuah warung kayu kecil berdiri nyaris terlupakan.

Tiang-tiangnya mulai rapuh dimakan usia. Atap seng berkarat tampak miring dan berlubang di beberapa bagian. Saat angin datang, seng-seng itu bergetar mengeluarkan bunyi nyaring seperti sedang mengeluhkan nasibnya sendiri.

Di warung sederhana itulah Mama Gafur (73) menjalani hari-harinya. Tak ada menu mewah di sana. Hanya kopi, teh hangat, dan mie instan yang tersusun seadanya di rak kayu usang. Namun dari tempat kecil itulah ia mempertahankan hidup, menjaga harga dirinya agar tetap berdiri di atas kaki sendiri.

“Aku sudah lama berjualan di sini, puluhan tahun. Dulu waktu masih di pinggir jalan sana, aku jual nasi kuning. Ramai sekali orang singgah.” ucapnya pelan sambil menyeduh kopi. Selasa 12 Mei 2026. Tatapannya menerawang jauh, seolah kembali mengingat masa ketika warungnya masih dipenuhi pelanggan.

Perempuan renta itu kemudian mulai berkisah tentang perjalanan panjang yang tak mudah. Dahulu ia berjualan di tepi Jalan Ahmad Yani Km 3,5. Namun penertiban demi penertiban membuatnya harus terus berpindah. Ia mundur ke jembatan kecil di tanah kosong pinggir jalan. Namun nasib serupa kembali datang.

“Saat itu warung kami mau diangkut petugas. Sedih sekali rasanya. Kami sudah tidak punya apa-apa. Suami waktu itu juga sedang sakit-sakitan," kenangnya dengan mata berkaca.

Warung sederhana milik Mama Gafur (73) di tepi Jalan Ahmad Yani Banjarmasin menjadi saksi perjuangannya bertahan hidup di usia senja.

Tak banyak pilihan tersisa. Bersama suaminya, Mama Gafur kembali mundur mencari tempat berteduh bagi warung kecil mereka. Hingga akhirnya seorang pemilik tanah mengizinkan mereka menempati sebidang lahan kosong tanpa meminta bayaran sedikit pun.

“Orangnya baik sekali, kami tidak disuruh bayar, bahkan beliau sering membantu. Sekarang sudah lama tidak ada kabarnya. Mudah-mudahan beliau sehat.” katanya lirih.

Namun berpindah tempat berarti kehilangan banyak pelanggan. Warungnya kini nyaris tersembunyi dari pandangan orang yang melintas cepat di Jalan Ahmad Yani. Deretan ruko di sekitar lokasi pun banyak yang tutup, membuat suasana semakin sepi.

“Jam sembilan pagi warung sudah buka sampai jam lima sore, kadang pulang tidak bawa uang. Tapi tetap disyukuri, badan masih diberi sehat.” ucap Mama Gafur sambil tersenyum tipis. “

Empat tahun terakhir, ia menjalani semuanya sendirian sejak sang suami meninggal dunia. Di usia senjanya, Mama Gafur tetap datang membuka warung setiap hari, meski pembeli tak selalu datang.

Kesedihan belum berhenti di situ. Warung reyotnya beberapa kali menjadi sasaran pencuri. Peralatan memasak yang nilainya tak seberapa pun tetap raib digondol orang.

“Belum ada rezeki untuk memperbaiki warung, kalau hujan air masuk dari mana-mana. Saat angin kencang, sengnya berbunyi keras sekali.” katanya sambil menatap atap seng yang mulai bocor.

Meski begitu, halaman kecil di sekitar warung tampak bersih dan rapi. Di bawah rindangnya pohon jambu air, Mama Gafur terus menjaga harapan yang tersisa.

Di tengah bising lalu lintas Kota Banjarmasin, kisahnya mengalir seperti secangkir kopi panas yang sederhana, tetapi menyimpan rasa pahit dan hangat sekaligus..Baginya hidup bukan tentang seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa kuat bertahan saat keadaan terus menguji. Tak ada kata menyerah bagi Mama Gafur.

Selama tubuhnya masih mampu berdiri, selama tangan tuanya masih bisa menyeduh kopi dan menyalakan kompor minyak itu. Ia akan tetap datang membuka warung kecilnya menjemput rezeki dengan cara yang paling sederhana dan paling mulia: bekerja dengan tangannya sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....