Ungkapan "Minta Rela" sebagai Kebiasaan Komunikasi Masyarakat Banjar

  • 27 Apr 2026 09:44 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Program Ragam Budaya Ruhui Barakatan RRI Pro4 Banjarmasin, Sabtu, 25 April 2026, mengusung tema mengenai ungkapan "minta rela" atau "barelaan" yang telah menjadi kebiasaan dalam kehidupan masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Siaran ini menghadirkan Akademisi UIN Antasari Banjarmasin, Prof. Dr. Hj. Yusna Zaidah, M.H., bersama dua orang mahasiswa program studi Hukum Keluarga Islam (HKI) UIN Antasari, Al Vaya Fitria dan M. Alwi Ramadhan.

Hj. Yusna menjelaskan bahwa ungkapan "minta rela" mulai tumbuh sejak lama berkat ajaran ulama besar Banjar, Abah Guru Sekumpul. Setelah beliau wafat, kebiasaan ini terus dilanjutkan oleh Guru Zuhdi, yang menunjukkan betapa besarnya peran para Tuan Guru dalam membentuk nilai budaya masyarakat Banjar.

Ungkapan minta rela atau barelaan sering diucapkan sebagai pembuka atau penutup pembicaraan. Ternyata, hal ini bukan sekadar basa-basi, melainkan bukti ketulusan dan rendah hatinya masyarakat Banjar.

Kebiasaan ini juga diterapkan dalam transaksi jual beli sehari-hari. Setelah mengucapkan akad jual beli, biasanya pembeli dan penjual akan saling mengakhiri percakapan dengan ucapan minta rela.

"Dengan mengucapkan minta rela atau berelaan, tentunya bertujuan untuk menjaga hubungan dengan orang lain," ujar Hj. Yusna. "Sehingga seseorang tidak menyimpan masalah atau sakit hati setelah berakhirnya pembicaraan atau pertemuan."

Alwi menambahkan berdasarkan pengamatannya sebagai orang yang lahir dari keluarga Madura, bahwa minta rela ini budaya yang hanya ada di Kalimantan Selatan. Dan orang-orang yang merantau ke Banjar bisa mengikuti atau meleburkan diri mereka untuk turut melakukan kebiasaan mengucap minta rela tersebut.

Alwi menambahkan, berdasarkan pengalaman sebagai seseorang yang lahir dari keluarga budaya Madura, ungkapan minta rela ini hanya ditemukan di Kalimantan Selatan. Hal ini pun juga membuat para perantau yang datang ke Kalimantan Selatan biasanya ikut menyesuaikan diri dan mengadopsi kebiasaan mengucapkan minta rela tersebut.

"Pernah ada keluarga ulun dari Madura datang ke Banjar, dia bingung juga dengan ungkapan minta rela ini saat belanja di warung," kata Alwi. "Tapi dia juga kagum dengan ungkapan ini dan kemudian langsung menerapkannya juga saat belanja keesokan harinya, karena orang Banjar sangat menjaga keikhlasan masing-masing."

Al Vaya menjelaskan bahwa ungkapan minta rela atau barelaan mencerminkan sifat rendah hati masyarakat Banjar. Melalui sikap tersebut, tercipta keharmonisan sekaligus harapan untuk mendapatkan keberkahan dari Allah.

"Bahkan orang Banjar juga sering mengatakan minta rela dunia akhirat," ujar Vaya. Artinya, orang Banjar ingin menyelesaikan semua urusan yang mengganjal cukup di dunia saja, dan berharap tidak sampai membawanya sampai ke akhirat."

Ungkapan minta rela dapat meredam dan bahkan menyelesaikan perselisihan yang berkepanjangan. Menurut Hj. Yusna, penyelesaian sengketa yang diawali dengan ucapan minta rela dapat mencegah konflik semakin membesar dan berlarut-larut.

Narasumber menekankan pentingnya melestarikan ungkapan minta rela atau barelaan bagi generasi mendatang. Hal ini dikarenakan ungkapan tersebut bukan sekadar bentuk komunikasi biasa, melainkan sebagai simbol penghormatan, ketulusan, serta upaya dalam menjaga keharmonisan antarmanusia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....