Tantangan Mengasuh Anak di Era Digital, Ini Strategi Efektif dari Psikolog
- 18 Jun 2026 13:29 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Tantangan mengasuh anak di era digital kini semakin kompleks seiring tingginya paparan teknologi dan gawai dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang tua mengeluhkan fenomena ketergantungan gawai yang membuat interaksi nyata di dalam lingkungan keluarga menjadi semakin berkurang. Masalah krusial ini dibahas oleh Psikolog Anisya Putri Ningsih dari HIMPSI Kalimantan Selatan, dlm Program NGOBROL RRI Pro1 Banjarmasin, Selasa 16 Juni 2026, guna memberikan solusi praktis bagi para orang tua.
Anisya Putri Ningsih memaparkan strategi jitu bagi para ayah untuk membatasi durasi menatap layar anak. Salah satu langkah konkret yang direkomendasikan adalah membangun budaya baru berupa kesepakatan makan bersama tanpa memegang gawai sama sekali.
"Pembiasaan ini dinilai sangat efektif untuk memicu komunikasi dua arah serta mengembalikan kehangatan hubungan antara orang tua dan anak," ucapnya,
Anisya mengatakan bahwa mengalihkan perhatian anak dari dunia maya membutuhkan kreativitas tinggi dari seorang ayah dalam menyediakan alternatif aktivitas yang menarik di rumah. Ayah dapat mengajak anak bermain lego, membuat kerajinan tangan, atau melakukan kegiatan fisik bersama guna merangsang kemampuan motorik mereka. Keterlibatan langsung ini secara otomatis akan mengurangi kejenuhan sehingga anak tidak lagi mencari pelarian instan melalui perangkat teknologi digital.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pendekatan pengasuhan harus disesuaikan dengan karakteristik unik serta jenis kelamin dari sang anak. Mengasuh anak perempuan menuntut kepekaan verbal yang lebih tinggi karena mereka cenderung lebih terbuka dalam mengekspresikan emosi dan pikiran. Sementara untuk anak laki-laki, pendekatan dapat dilakukan melalui kesamaan hobi atau aktivitas luar ruangan yang bersifat eksploratif dan menantang.
"Kita harus masuk dunia anak itu, kita harus banyak tahu apa yang saat ini sedang disukai," ucap Anisya.
Anisya menegaskan penguasaan terhadap hal-hal yang sedang populer di kalangan anak akan mempermudah ayah dalam menyusun topik pembicaraan yang santai dan relevan. Pendekatan yang tulus dan tanpa penghakiman akan membuat buah hati merasa nyaman untuk berbagi cerita mengenai kehidupan mereka sehari-hari.
"Bahasa cinta seorang kepala keluarga tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk ungkapan verbal yang romantis atau penuh pujian," ucapnya.
Ditambahkanya bahwa tindakan sederhana seperti membelikan makanan kesukaan lalu duduk bersama untuk menikmatinya sudah merupakan wujud nyata dari sebuah kasih sayang. Momen-momen kebersamaan yang berkualitas inilah yang nantinya akan tersimpan rapat sebagai memori inti yang sangat berharga bagi anak.
Edukasi pola asuh yang substansial ini diharapkan mampu membekali pasangan muda dalam mengelola ketahanan emosional keluarga. Kesiapan mental orang tua dalam menghadapi perubahan zaman menjadi modal utama untuk membimbing generasi z menuju masa depan yang cerah. Melalui komitmen dan konsistensi yang kuat, pemanfaatan gawai pada anak dapat dikendalikan demi menjaga kesehatan mental serta sosial mereka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....