Rakat Mufakat dalam Perspektif Psikologi Sosial
- 27 Apr 2026 08:34 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Rakat mufakat dalam budaya Banjar merujuk pada praktik bermusyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama yang diterima secara kolektif. Hal ini disampaikan oleh Akademisi UIN Antasari, Miftahul Aula Sa'adah, M.Psi., Psikolog, dalam program Pandiran Baisukan RRI Pro4 Banjarmasin, Jumat, 24 April 2026.
Ia menyampaikan dalam perspektif psikologi sosial, rakat mufakat dipahami sebagai fenomena kompleks yang melibatkan dinamika kognitif, emosional, dan sosial. Keputusan yang dihasilkan bukan sekadar pilihan personal, melainkan kesepakatan yang tidak hanya logis, tetapi juga manusiawi.
"Dalam masyarakat Banjar, rakat mufakat itu bisa terjadi dalam forum formal maupun informal," ujarnya. "Saat berdiskusi, kita sebagai individu tidak berdiri sendiri, namun ada proses ketika kita saling mendengar, saling mempertimbangkan pendapat, dan menyesuaikan sikap kita dengan dinamika kelompok yang kita ikuti."
Menurutnya, rakat mufakat menuntut individu untuk melakukan penyesuaian terhadap kelompok. Proses ini dikenal sebagai konformitas, yaitu saat seseorang menyelaraskan pendapatnya demi menjaga keharmonisan kelompok.
Proses pencapaian keputusan melibatkan persuasi melalui argumentasi para tokoh yang dipercaya, seperti tokoh agama, tokoh adat, maupun orang yang dituakan. Oleh karena itu, setiap perbedaan pendapat harus disampaikan dengan cara yang sopan dan tetap menghormati pandangan orang lain agar hubungan baik antaranggota tetap terjaga.
Mahasiswi Program Studi Psikologi Islam, Aulia Najira Putri, turut menyampaikan pandangannya mengenai urgensi tradisi ini dari perspektif generasi muda. Menurutnya, implementasi nilai rakat mufakat sangat penting untuk diterapkan dalam setiap dinamika kelompok diskusi di kalangan generasi muda.
"Saya melihat rakat mufakat ini membuat kita menjunjung tinggi nilai kebersamaan," ujar Aulia. "Terlebih lagi, saya aktif di berbagai organisasi, sehingga saya belajar untuk menerima, mendengar, dan menghargai sesama anggota organisasi dan berusaha tidak mengintimidasi."
Proses rakat mufakat mendorong adanya keterbukaan yang memungkinkan individu melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Meskipun sebuah pendapat dinilai sangat berbeda atau minoritas, ide tersebut tetap bisa diambil sebagai keputusan jika itu membawa banyak manfaat bagi anggota kelompok.
Kedua narasumber menekankan bahwa rakat mufakat dapat terus dijaga dan dilestarikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu karena di dalam mufakat terkandung kearifan lokal yang mengajarkan pentingnya kebersamaan, keharmonisan, dan rasa kemanusiaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....