Hemat Energi atau Bebani Siswa? Disdik Banjarmasin Buka Suara soal Sekolah Full Day

  • 18 Apr 2026 11:17 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Wacana penerapan sekolah dasar (SD) dengan sistem full day selama lima hari dalam sepekan mulai mencuat di Kota Banjarmasin. Sejumlah sekolah bahkan sudah mengajukan skema tersebut ke Dinas Pendidikan (Disdik), menyusul kebijakan pemerintah pusat terkait penghematan energi di tengah situasi global.

Kepala Disdik Kota Banjarmasin, Ryan Utama, mengakui bahwa usulan tersebut memang sudah masuk dan saat ini masih dalam tahap kajian, terutama menyangkut kesiapan sekolah serta tenaga pendidik. “Memang saat ini beberapa gugus SD yang mengusulkan full day. Saat ini sedang kami kaji untuk kesiapaannya,” kata Ryan.

Menurutnya, kondisi di lapangan saat ini masih beragam dan tidak bisa disamaratakan. Ada sekolah yang masih menerapkan sistem enam hari belajar, sehingga perubahan ke lima hari full day perlu penyesuaian matang agar tidak berdampak pada kualitas pendidikan.

“Ada yang 6 hari, tapi sebenarnya ada kebijakan kalau memang sekolah boleh mengajukan full day selama 5 hari. Namun tetap kita lihat dan evaluasi lagi,” ujarnya.

Kebijakan ini disebut-sebut berkaitan dengan upaya efisiensi energi yang digaungkan pemerintah pusat, terutama di tengah dinamika konflik di Timur Tengah yang berdampak pada berbagai sektor, termasuk energi. Namun, untuk jenjang SMP di Banjarmasin, sistem lima hari sekolah dengan konsep full day sebenarnya sudah lebih dulu diterapkan.

Ryan juga menegaskan bahwa sektor pendidikan tidak termasuk dalam skema Work From Home (WFH) penuh. Berdasarkan arahan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan secara tatap muka di sekolah.

“Sektor pendidikan mendapat pengecualian. Jadi tetap menjalankan pembelajaran langsung di satuan pendidikan masing-masing,” ucapnya.

Ia menambahkan, kebijakan ini selaras dengan arah pemerintah dalam program Transformasi Budaya Kerja Nasional, yang menempatkan pendidikan sebagai sektor prioritas layanan langsung. Meski demikian, Ryan mengingatkan bahwa pembelajaran jarak jauh bukan tanpa kendala dan perlu pertimbangan serius jika kembali diterapkan.

“Sebab kalau terkait pembelajaran jarak jauh, mungkin efektivitas dinilai kurang hingga perlu diperhatikan jika diberlakukan. Sekarang kami perlu mempertimbangkan serius jika diterapkan,” ujarnya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....