Pendangkalan saat Kemarau Jadi Kekhawatiran Pembudi Daya Ikan di Banua Anyar
- 31 Mar 2026 15:45 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Turunnya debit air sungai saat musim kemarau tiba menjadi kekhawatiran yang berdampak langsung pada operasional budidaya ikan keramba jaring apung di kawasan Banua Anyar, Banjarmasin. Fenomena pendangkalan di tepian sungai memaksa para pembudi daya untuk membiarkan sebagian keramba mereka kosong tak terpakai.
Salah seorang pembudi daya ikan, Qasthalani, mengeluhkan dasar sungai yang kini mulai menyentuh bagian bawah jaring keramba akibat air surut. Dari total 16 unit keramba yang ia kelola, hanya separuhnya saja yang masih bisa digunakan saat kemarau tiba.
"Sekitar 7 sampai 8 keramba tidak bisa dipakai karena air di tepian sudah sangat dangkal saat masuk musim panas. Dulu biar kemarau masih bisa dipakai semua," kata Qasthalani pada Senin, 30 Maret 2026.
Ia menyebut kondisi ini menyebabkan ia dan para pembudi daya lain tidak bisa menebar benih ikan dalam jumlah normal. Akibatnya hasil panennya pun menurun hingga 25 persen jika dibandingkan dengan kondisi air sungai saat normal.
Kondisi jaring yang mulai menyentuh lumpur juga membuat sirkulasi air menjadi tidak lancar dan berisiko membuat ikan stres. Hal ini memaksa para pembudi daya untuk membatasi jumlah ikan di setiap jaring agar mereka tetap memiliki ruang gerak yang cukup.
"Hasil panen nanti pasti jauh lebih sedikit karena jumlah bibit yang ditebar juga berkurang banyak. Pendangkalan di tepian ini memang kelihatannya semakin parah dari tahun ke tahun," ucapnya.
Sementara itu, Penyuluh Perikanan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarmasin, Roslina, membenarkan masalah fisik sungai menjadi kendala utama para petambak. Faktor alam tersebut sangat memengaruhi manajemen kerja para pembudi daya keramba di Banua Anyar.
Roslina mengimbau warga agar tetap konsisten mengecek fisik keramba dan memindahkannya ke area sungai yang lebih dalam jika memungkinkan. Ia juga menyarankan untuk tidak menebar benih ikan saat kondisi rentan seperti kemarau ini.
"Karena keramba ada di sungai, jadi sangat bergantung pada kondisi air. Kami sarankan pengecekan rutin tetap dilakukan agar sisa keramba yang ada tetap aman dari risiko kerugian," ujarnya.
Para pembudidaya berharap adanya solusi teknis terhadap pendangkalan sungai yang terjadi. Fenomena ini dikhawatirkan akan membuat para pembudi daya terus kehilangan kapasitas produksi setiap tahunnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....