Dampak Kemarau, Air PAM di Banjarmasin Terasa Payau dan Asin
- 09 Sep 2026 03:21 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Dampak kemarau panjang masih memicu tingginya tingkat intrusi air laut di sejumlah wilayah Kota Banjarmasin. Kondisi ini membuat kualitas distribusi air bersih yang diterima warga mulai terasa payau hingga asin.
Sebelumnya, kadar garam yang tinggi pada sumber air baku menyebabkan penurunan distribusi air secara signifikan di area pelayanan. Data PT PAM Bandarmasih mencatat kadar garam di Intake Sungai Bilu melesat hingga 6.905 miligram per liter pada Selasa, 8 September 2026 pukul 09.00 Wita.
Meski melandai menjadi 1.861 miligram per liter pada pukul 22.00 Wita, tingkat keasinan tersebut masih jauh melebihi ambang batas aman. Standar kelayakan air bersih menetapkan kadar garam maksimal berada di kisaran 300 miligram per liter.
Kondisi air yang berasa asin ini mulai dikeluhkan oleh masyarakat yang bergantung pada pasokan air PAM. Salah seorang warga kawasan Teluk Tiram, Banjarmasin Barat, Budi Ansari, mengeluhkan perubahan rasa air yang menjadi kebutuhan harian keluarga.
"Ada terasa asin kadang-kadang. Kaya berlemak rasa airnya, kalau istilah kita itu airnya hanta," ujarnya.
Hal tersebut juga dikonfirmasi oleh istri Budi, Bastiah. Ia mengaku keluarganya kini kesulitan mendapatkan air bersih layak konsumsi selama musim kemarau berlangsung.
"Biasanya air ini juga untuk minum. Tapi, kadang-kadang bisa keruh dan sekarang sudah hanta, jadi akhirnya beli air isi ulang dulu sementara," kata Bastiah.
Sebelumnya, Direktur Utama PT PAM Bandarmasih, Zulbadi, menjelaskan bahwa pihaknya terpaksa menurunkan volume distribusi air ke pelanggan. Langkah ini diambil untuk menjaga kualitas pasokan air agar tetap berada pada batas aman konsumsi.
"Kami memahami bahwa kondisi ini sangat berdampak terhadap pelayanan kepada pelanggan. Namun, kualitas air yang didistribusikan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas utama," ujarnya.
Selain di Intake Sungai Bilu, PT PAM Bandarmasih juga mulai mengurangi distribusi air dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sungai Lulut pada Selasa, 8 September 2026. Keputusan tersebut diambil setelah kadar garam pada sumber air baku di lokasi tersebut melonjak hingga 2.450 miligram per liter.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....