Fenomena Pampangan di Sungai Hambat Mobilitas Transportasi Air
- 29 Mar 2026 21:31 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Fenomena tumpukan sampah sungai atau pampangan kembali menjadi ancaman serius bagi kelancaran transportasi air di aliran Sungai Martapura. Pantauan di lapangan menunjukkan kawasan Sungai Gampa hingga Banua Anyar sempat tertutup pampangan yang hampir menutupi separuh badan sungai.
Kondisi tersebut memaksa warga yang menggunakan transportasi air seperti kelotok (perahu mesin) untuk mematikan mesin saat melintasi tumpukan sampah tersebut. Hal ini guna menghindari kerusakan pada kipas mesin akibat tersangkut eceng gondok maupun ranting kayu yang mendominasi pampangan.
Salah seorang warga, Nor Ainah, menyebut kemunculan pampangan ini merupakan fenomena tahunan yang kian parah dalam tiga tahun terakhir. Menurutnya, tumpukan sampah ini muncul mengikuti arus air pasang dan kerap membatasi akses warga.
"Setiap tahunnya pampangan ini terasa semakin banyak dan sangat mengganggu karena menutupi akses sungai yang jadi jalur utama ll. Apalagi dalam dua sampai tiga tahun terakhir ini, kondisinya terlihat jauh lebih parah dari sebelumnya," ujarnya pada Sabtu, 28 Maret 2026.
Nor Ainah yang setiap harinya menempuh jarak satu kilometer menuju sawah tempatnya kerja sangat bergantung pada perahu sebagai alat transportasi utama. Ia menyebut banyak warga yang terpaksa memutar balik karena jalur sungai sudah tidak bisa ditembus akibat padatnya pampangan.
"Karena tumpukan sampah ini banyak, masyarakat jadi susah lewat dan aktivitas sehari-hari terganggu. Kadang warga tidak jadi lewat terus putar balik," ucapnya menambahkan.
Hal serupa juga disampaikan oleh Samsiah, warga lainnya yang menilai hal ini sangat menyulitkan para petani dan pekebun. Ia menyebut tumpukan sampah yang terdiri dari kayu dan bambu ini sering kali membuat jukung (perahu) milik warga tidak bisa melintas.
"Kalau kondisi pampangannya sudah sangat lebar menutupi sungai, jukung jadi susah lewat. Akhirnya terpaksa jalan kaki untuk sampai ke tujuan," katanya.
Bagi masyarakat setempat, jalur sungai merupakan akses paling efisien karena mampu memangkas waktu tempuh dibandingkan menempuh jalur darat. Perahu juga menjadi andalan para petani dan pekebun untuk mengangkut hasil panen dalam jumlah banyak.
Meskipun saat ini kondisi sungai sudah berangsur normal pasca dibersihkan, warga tetap mengkhawatirkan kembalinya pampangan tersebut. Warga berharap adanya solusi konkrit agar aktivitas ekonomi warga pinggiran sungai tidak terus terganggu akibat kemunculan pampangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....