Pasar Wadai: Cerita Penjual Tikar Mengais Rezeki di tengah Pro-Kontra

  • 28 Feb 2026 13:32 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Pasar Wadai Ramadan di kawasan Siring Nol Kilometer Banjarmasin kini selalu dipadati pengunjung menjelang waktu berbuka puasa. Di tengah keramaian tersebut, puluhan penjual tikar musiman tampak sibuk menawarkan alas duduk kepada pengunjung yang datang.

Keberadaan jasa penyediaan tikar ini sering kali menuai pro dan kontra di kalangan pengunjung pasar wadai. Sebagian merasa terbantu dengan adanya penjual alas duduk ini, namun ada pula yang merasa kurang nyaman dengan gaya berjualan yang dinilai terlalu agresif.

Di sisi lain, hal ini merupakan ladang rezeki bagi Zain, seorang pedagang yang sudah melakoni profesi musiman ini sejak lokasi pasar wadai masih berada di Balai Kota Banjarmasin. Pengalaman bertahun-tahun membuatnya sangat paham akan kebutuhan warga yang ingin menikmati suasana sore di tepian Sungai Martapura tersebut.

“Biasanya saya jualan di majelis, terus saya coba juga di pasar wadai dan akhirnya sampai pasar wadai tahun ini,” ujar Zain sembari menyusun tikarnya.

Untuk menjaga ketertiban di area publik, Zain mengaku ia dan penjual lainnya memiliki aturan tak tertulis terkait etika berjualan. Meski mereka mencari keuntungan masing-masing, para pedagang ini tetap bergerak dalam kelompok agar tetap terkoordinasi.

“Ada aturan juga kalau jualan ini, sampahnya harus bersih dan pastinya tidak sampai mengganggu atau menutup jalan,” katanya menjelaskan.

Pengunjung hanya perlu membayar Rp10 ribu untuk mendapatkan selembar alas duduk yang bisa langsung digunakan untuk duduk menikmati santapan berbuka puasa. Zain mengatakan tikar yang sudah dibayar sepenuhnya menjadi hak milik pembeli sehingga bebas dibawa pulang usai digunakan.

Mayoritas penjual tikar ini sengaja turun ke lapangan demi mencari penghasilan tambahan untuk mencukupi kebutuhan selama Ramadan. Sebagian besar dari mereka merupakan warga yang tidak memiliki pekerjaan tetap dan sangat mengandalkan momentum keramaian bulan suci ini.

“Kalau setahu saya kurang lebih 20 sampai 30 orang yang jualan tikar di sini, jadi lumayan banyak lah,” kata Zain.

Ia sendiri berencana akan terus menjajakan barang dagangannya hingga hari terakhir pelaksanaan Pasar Wadai Ramadan. Meski pendapatan harian tidak menentu, ia tetap berkeliling setiap sore demi mengais pundi-pundi rupiah dengan puluhan tikar yang selalu ia bawa.

“Kalau pendapatan tidak menentu, paling sedikit sehari Rp70 ribu, paling banyak Rp200 ribu dan rencana jualannya full selama bulan ramadan,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....