Wamenko Pangan: Gambut Gunung Damar Rusak Parah, Penanganan Karhutla Harus Diubah

  • 13 Sep 2026 09:15 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarbaru - Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengungkap kondisi kawasan hidrologis gambut di Gunung Damar dan Pengkayuan, Banjarbaru Kalsel, saat ini mengalami kerusakan sangat parah. Hal imi akibat kebakaran hutan dan lahan.

Hal itu diungkapkan Hanif dalam rapat koordinasi dan evaluasi percepatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bertempat di Aula Rimbawan I Dishut Kalsel, Sabtu 12 September 2026.

Kerusakan gambut juga diperparah akibat sistem drainase yang berlebihan sehingga menghilangkan kemampuan alami gambut dalam menahan air. Hanif mengatakan, kondisi itu terlihat setelah upaya pembasahan gambut di kawasan Gunung Damar dilakukan selama sekitar 20 hari. Air yang telah dialirkan ternyata kembali hilang dan mengalir.

“Kalau gambutnya masih bagus, air itu tertahan di gambut. Tetapi setelah kita rendam selama 20 hari, ternyata airnya hilang lagi,” kata Hanif, di dampingi Kadishut Kalsel Fatimatuzahra.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat upaya pembasahan secara konvensional menjadi kurang efektif untuk mengatasi Karhutla. Terlebih, cuaca panas dan kekeringan menyebabkan air yang dialirt ke kawasan gambut cepat menguap atau kembali mengalir keluar.

Karena itu, pemerintah kini menyiapkan penggunaan cairan Surfaktan Innovasi Polda Kalsel sebagai salah satu strategi penanganan karhutla di kawasan gambut. Surfaktan merupakan bahan yang umum digunakan dalam pembuatan sabun.

Dalam penanganan karhutla, bahan tersebut dinilai dapat membantu mempercepat pendinginan dan membuat air lebih efektif membasahi material gambut. Sehingga api tidak mudah kembali muncul.

Hanif menyebut penggunaan surfaktan akan dimaksimalkan, terutama di wilayah yang tidak memungkinkan dilakukan pembasahan dengan cara konvensional. “Ini akan menjadi andalan kita dalam penanganan karhutla. Kita ingin api bisa ditaklukkan dalam waktu satu minggu,” ujarnya.

Selain penggunaan surfaktan, pemerintah juga telah menyiapkan infrastruktur penampungan air dan kanal blocking di sejumlah lokasi. Namun, khusus kawasan Pengayuan yang mengalami kekeringan cukup parah, penanganan harus dilakukan dengan metode pemadaman selektif menggunakan surfaktan.

Hanif menyebut luasan lahan terdampak kebakaran di Pengayuan kini diperkirakan telah mencapai sekitar 1.500 hektare. Inj lebih besar dari perkiraan sebelumnya yang berada di kisaran 900 hektare.

Untuk mempercepat penanganan, posko dan personel pemadaman juga akan diperbanyak. Pemerintah menargetkan setiap titik rawan dijaga dan dilakukan pemantauan secara intensif.

Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan langkah jangka menengah dan panjang untuk memulihkan ekosistem gambut. Salah satunya dengan menyusun regulasi yang memberikan dasar hukum bagi penanganan kebakaran di kawasan privat.

Hanif mengatakan, pemerintah provinsi diminta segera menyiapkan naskah akademik dan kajian urgensi sebagai dasar penyusunan regulasi tersebut..“Yang kita tangani ini kebakaran di area private, sehingga perlu peraturan daerah atau minimal peraturan gubernur untuk menjelaskan ini,” katanya.

Untuk jangka panjang, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum juga menyiapkan anggaran hampir Rp10 miliar untuk pembangunan kanal blocking, pintu air. Serta sumur bor guna menjaga ketersediaan air di kawasan gambut.

Pengelolaan tinggi muka air gambut menjadi perhatian penting. Hanif menyebut tinggi muka air gambut perlu dijaga agar tidak terlalu rendah, karena kondisi gambut yang kering sangat mudah terbakar. Pemerintah juga akan menyiapkan sistem kontrol untuk memantau dan mengendalikan tinggi muka air di kawasan gambut Gunung Damar dan Pengkayuan.

“Ke depan, kita akan penuhi kawasan hutan lindung gambut di Gunung Damar dan Pekayon dengan infrastruktur penanggulangan karhutla,” katanya.

Hanif menegaskan, upaya penanganan karhutla tidak hanya dilakukan saat kebakaran terjadi. Pemerintah juga akan memperkuat pencegahan. Termasuk memastikan masyarakat tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.

Menurutnya, jika masyarakat kesulitan biaya untuk membuka lahan tanpa membakar, pemerintah akan menyiapkan dukungan berupa alat berat dan sarana lainnya. Ia menilai pengalaman penanganan karhutla tahun ini menjadi pembelajaran penting.

Ratusan pompa dan puluhan unit pompa tangki telah dikerahkan, disertai ribuan personel. Namun, kondisi gambut yang sangat kering membuat metode konvensional belum cukup untuk menaklukkan api.

Karena itu, strategi penanganan akan ditingkatkan dari sekadar pemadaman menjadi upaya yang lebih terintegrasi. Dengan menggabungkan pemadaman, pembasahan gambut, pengendalian air, hingga pencegahan kebakaran sejak awal.

"Kita berharap langkah tersebut mampu mempercepat penanganan karhutla di Kalsel dalam satu hingga dua pekan, sekaligus memberikan kepastian perlindungan kawasan gambut menghadapi musim kemarau berikutnya," katanya.

Adapun rapat koordinasi tersebut turut dihadiri oleh Polda Kalsel, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak), BPBD Provinsi Kalimantan Selatan, BPBD Kota Banjarbaru. Balai Wilayah Sungai (BWS) Wilayah III Kalimantan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Balai Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup, serta Pusat Pengendalian dan Operasi KLH (Pusdal KLH).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....