Antisipasi Puncak Kemarau Kalsel, Menhut Ingatkan Ancaman Krisis Air
- 23 Agt 2026 16:53 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarbaru - Puncak kemarau yang diperkirakan berlangsung pada September mendatang menjadi perhatian serius Menteri Kehutanan Republik Indonesia Raja Juli Antoni. Saat meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan, Menhut mengingatkan potensi karhutla masih sangat tinggi seiring masih berlangsungnya fenomena El Nino.
Raja Juli menyebut kondisi kemarau saat ini hampir serupa dengan fenomena El Nino pada tahun 2015 lalu. Pada saat itu, El Nino memicu karhutla hebat di Indonesia hingga berdampak pada 2,6 juta hektare lahan.
"Pada saat itu banyak masyarakat yang mengidap ISPA, bandara, sekolah, hingga pasar ditutup. Meskipun El Nino-nya sama seperti 2015, tapi dampak negatifnya ini yang coba kita mitigasi sekuat tenaga," ujarnya di sela peninjauan titik api di Banjarbaru, Minggu, 23 Agustus 2026.
Menhut menambahkan, puncak El Nino juga akan memicu tantangan baru berupa krisis pasokan air. Kekeringan ekstrem dipastikan membuat debit air di berbagai saluran pemadaman kian menyusut.
"Pada puncaknya nanti sumber air pasti akan menipis. Tadi juga sudah mulai dipetakan di mana kita bisa mendapatkan sumber air dari sumur bor," ucapnya.
Ia menegaskan saat ini pihaknya akan terus menjalin koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Hal ini sebagai upaya terpadu agar penanganan karhutla di lapangan dapat berjalan maksimal.
Guna mengantisipasi krisis tersebut, Menhut menugaskan BPBD sebagai leading sector untuk memetakan wilayah-wilayah yang mulai kesulitan air. Pasalnya, ancaman krisis air bersih dan air pemadaman sudah dirasakan langsung oleh masyarakat di sejumlah wilayah.
Di kawasan Pengayuan, Kelurahan Landasan Ulin Selatan misalnya, warga mulai kesulitan mendapatkan air untuk aktivitas harian. Salah seorang warga, Sarhanah, mengaku kini terpaksa menumpang air dari sumur tetangga setelah mesin pompa air miliknya terbakar saat lahan di sekitar rumahnya dilahap api.
"Kita kan kalau mau pakai ledeng mahal biayanya. Jadi sehari-hari cuma bisa pakai sumur. Sementara beli air dulu kalau untuk minum, harganya Rp5 ribu per 35 liter. Soalnya mengharap sumur juga susah sementara ini," kata Sarhanah.
Tidak hanya berdampak pada aktivitas harian masyarakat, kondisi kekeringan ini turut berdampak pada upaya penanganan api di lapangan. Pasalnya, kanal-kanal air di wilayah tersebut saat ini turut mengering, sementara kondisi sumur juga mengalami kekeringan serupa.
Kekeringan yang melanda permukiman warga tersebut berjalan seiring dengan kondisi sebaran titik api di Kalsel. Berdasarkan data SiPongi, jumlah titik api di Kalsel sempat mencapai 157 titik pada Jumat, 21 Agustus 2026, lalu merosot menjadi 11 titik pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026.
Namun, pemantauan pada Minggu, 23 Agustus 2026 pukul 06.00 WITA menunjukkan jumlah titik api kembali melonjak menjadi 44 titik. Sebaran hotspot tersebut terdeteksi di sejumlah wilayah, meliputi Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, Hulu Sungai Selatan, dan Tapin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....