Emosi dan Lingkungan Pengaruhi Kebiasaan yang Sulit Dihentikan
- 13 Sep 2026 20:42 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Mengetahui kebiasaan itu salah tidak selalu mampu membuat seseorang menghentikannya karena faktor emosi, kondisi diri, pengalaman, dan lingkungan yang memengaruhi.
- Dialog melibatkan narasumber dari berbagai latar belakang termasuk Ketua PW Salimah Kalimantan Selatan Rimalia Karim dan pemenang Duta Genre Kota Banjarmasin 2026.
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Mengetahui suatu kebiasaan itu salah tidak selalu membuat seseorang mampu menghentikannya. Faktor emosi, kondisi diri, pengalaman, dan lingkungan dapat memengaruhi seseorang untuk tetap mengulangi kebiasaan tersebut.
Hal itu dibahas dalam Program Inspirasi Kehidupan RRI, Sabtu malam, 12 September 2026, melalui tema “Aku Tahu Ini Salah, Tapi Mengapa Aku Tetap Melakukannya?”. Dialog menghadirkan Ketua PW Salimah Kalimantan Selatan Rimalia Karim, SKM., M.M., Duta Genre Social Media Putra Kota Banjarmasin 2026 Muhammad Setiawan, dan Wakil Duta Genre Putri Kota Banjarmasin 2026 Mutia Rahmah.
Rimalia Karim mengatakan, keputusan seseorang tidak hanya dipengaruhi pengetahuan tentang benar atau salah. Suasana hati, pengalaman hidup, dan kondisi diri turut memengaruhi pilihan yang diambil.
“Ketika melakukan sesuatu, ini bukan hanya sekadar keputusan intelektual,” ucapnya. “Jadi, tidak hanya sekadar cukup menyalahkan diri kita, perlu tahu apa yang terjadi pada diri kita.”
Kebiasaan merokok dan menggulir media sosial terlalu lama, menurut Rimalia, dapat bermula dari keinginan menghilangkan rasa bosan. Kebiasaan tersebut kemudian dapat membuat seseorang mengejar kepuasan sesaat meski waktu terbuang dan merugikan diri sendiri.
Pemahaman terhadap perasaan yang memicu kebiasaan buruk dinilai penting untuk memperbaiki pilihan. Mengenali kondisi diri juga membantu seseorang menghindari pengulangan kesalahan yang sama.
Sementara itu, Muhammad Setiawan mengatakan sebagian besar remaja cenderung memilih sesuatu yang instan dibandingkan proses yang membutuhkan waktu. Ia mengaku pernah terlalu larut bermain gim hingga melupakan waktu belajar dan nasihat orang tua.
“Menurut saya, kebanyakan remaja lebih suka memilih yang instan dibanding hal yang berproses,” ujar Setiawan yang akrab disapa Satya. “Sebagai remaja, kita kebanyakan ingin selalu mendapatkan hasil yang cepat.”
Pengalaman menerima kritik dalam organisasi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran Satya. Ia mengaku sempat merasa tidak nyaman dan kurang percaya diri, tetapi berusaha tetap profesional saat menerima evaluasi.
Di kesempatan yang sama, Mutia Rahmah menjelaskan bahwa manusia tidak selalu berpikir secara rasional karena emosi turut memengaruhi keputusan. Perasaan, kondisi diri, serta faktor internal dan eksternal dapat membentuk pilihan seseorang.
“Manusia itu tidak bisa seratus persen rasional ketika ingin melakukan sesuatu,” kata Mutia. “Ada perasaan, emosi, serta faktor eksternal dan internal yang memengaruhi keputusan tersebut.”
Mutia menegaskan bahwa kesalahan merupakan bagian dari kehidupan, tetapi tidak boleh dijadikan alasan untuk terus mengulanginya. Menerima kesalahan, berdamai dengan diri sendiri, dan memperbaikinya menjadi langkah penting untuk membangun kebiasaan yang lebih baik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....