Kenali Penyebabnya, Tidak Semua Gangguan Tidur Merupakan Insomnia

  • 31 Agt 2026 06:17 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Tidak semua gangguan tidur dapat langsung dikategorikan sebagai insomnia dan memerlukan identifikasi penyebab terlebih dahulu.
  • Gangguan tidur dapat berupa kesulitan memulai tidur maupun kesulitan mempertahankan tidur dengan karakteristik yang berbeda.
  • Dokter Spesialis Neurologi dr. Dewiyana menekankan pentingnya diagnosis yang tepat untuk penanganan masalah tidur yang efektif.

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Tidak semua gangguan tidur dapat langsung dikategorikan sebagai insomnia. Masyarakat perlu mengenali penyebab dan jenis gangguan tidur yang dialami sebelum menyimpulkan adanya masalah kesehatan tertentu.

Hal tersebut disampaikan Dokter Spesialis Neurologi dan Dosen Program Studi Spesialis Neurologi FKIK ULM, dr. Dewiyana, Sp.N(K)., dalam acara Indonesia Sehat, Jumat, 28 Agustus 2026. Menurutnya, gangguan tidur dapat berupa kesulitan memulai tidur maupun mempertahankan tidur.

“Insomnia atau gangguan tidur, seperti tidak bisa tidur atau tidur yang terganggu, belum tentu dikatakan mengalami insomnia,” ujarnya. “Kita perlu melihat terlebih dahulu jenis dan penyebab gangguan tidur yang dialami.”

Dewiyana menjelaskan, seseorang dapat mengalami kesulitan memulai tidur atau terbangun setelah sebelumnya berhasil tidur dengan cepat. Kondisi tersebut tidak selalu menunjukkan seseorang mengalami insomnia sehingga perlu dicari penyebab yang mendasarinya.

“Gangguan tidur itu bisa berupa kesulitan memulai tidur atau kesulitan mempertahankan tidur,” ujarnya menambahkan. “Artinya, seseorang sudah dapat tidur dengan cepat, tetapi kemudian tidurnya terganggu.”

Ia mengatakan, penanganan gangguan tidur sebaiknya dilakukan dengan mengetahui sumber permasalahannya terlebih dahulu. Dengan memahami penyebabnya, gangguan atau gejala yang muncul diharapkan dapat ditangani dengan tepat.

“Tidak semua orang yang mengalami gangguan tidur menjadi masalah kesehatan. Karena itu, kita perlu kembali melihat apa penyebabnya agar gangguan tersebut dapat diatasi,” ujarnya.

Dewiyana menambahkan, kualitas tidur juga dapat dilihat dari kemampuan seseorang untuk memulai tidur dalam waktu yang wajar. Menurutnya, tidur dikatakan berkualitas apabila seseorang dapat memasuki fase tidur dalam rentang sekitar 15 hingga 30 menit setelah mulai beristirahat.

“Tidur dikatakan berkualitas apabila kita dapat memulainya dengan cepat,” ujarnya. “Latensi tidur yang baik sekitar 15 sampai 30 menit, artinya dalam waktu 15 menit kita sudah masuk fase tidur dan paling lama 30 menit.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....