Memahami Krisis Usia Dewasa di tengah Tuntutan Kehidupan
- 28 Jul 2026 12:44 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Usia 30-40 tahun merupakan masa rentan yang sering memicu tekanan psikologis dan krisis eksistensial karena pertanyaan tentang capaian hidup, kondisi finansial, dan tanggung jawab sosial yang semakin berat.
- Menurut praktisi parenting Rimalia Karim, krisis terjadi ketika daya adaptasi seseorang tidak sebanding dengan peningkatan beban hidup yang dihadapi.
- Setiap fase perkembangan usia membawa tantangan unik yang memerlukan kesiapan mental dan kemampuan menyandang beban yang terlatih dengan baik.
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Perubahan dinamika kehidupan pada usia dewasa kerap memunculkan tekanan psikologis dan krisis eksistensial. Kondisi tersebut umumnya dialami saat seseorang menghadapi tuntutan hidup, tanggung jawab, dan harapan yang semakin besar.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam siaran "Inspirasi Kehidupan" RRI Pro1 Banjarmasin, Sabtu, 25 Juli 2026, bersama praktisi parenting dan keluarga, Rimalia Karim. Menurutnya, krisis pada usia dewasa muncul ketika kemampuan beradaptasi tidak sebanding dengan beban hidup yang dihadapi.
"Ketika daya adaptasi kurang dan kemampuan menyandang beban tidak terlatih, di situlah krisis sebenarnya terjadi," ujar Rimalia Karim. “Karena itu, kemampuan beradaptasi perlu terus dibangun dalam setiap fase kehidupan.”
Ia menjelaskan, setiap tahap kehidupan memiliki tantangan yang berbeda. Namun, perkembangan teknologi dan berbagai kemudahan saat ini membuat sebagian orang kurang terbiasa menghadapi tekanan sehingga lebih mudah mengalami stres.
Rimalia juga menyoroti kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain melalui media sosial. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat memicu rasa iri, mengurangi rasa syukur, dan memperburuk kondisi psikologis seseorang.
"Rasa dengki dan kebiasaan membandingkan diri akan menghilangkan kebahagiaan," katanya. “Hal tersebut membuat hidup terasa semakin berat dan penuh tekanan.”
Selain itu, ia mengatakan krisis usia dewasa juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman emosional yang belum terselesaikan. Trauma masa lalu dapat membuat seseorang lebih mudah merasa cemas dan kesulitan menghadapi persoalan sehari-hari.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Rimalia mengajak masyarakat membangun kesadaran diri serta menerima setiap proses kehidupan dengan lapang. Menurutnya, seseorang juga perlu menghargai diri sendiri dan tidak terus-menerus terjebak dalam pikiran negatif.
"Ketika kita mampu bersyukur dan melihat kebaikan dalam diri, beban hidup akan terasa lebih ringan," ujarnya. “Sikap tersebut menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan mental.”
Ia menambahkan, pendekatan spiritual juga memiliki peran penting dalam menjaga ketenangan batin. Dengan memperkuat nilai-nilai agama dan kepasrahan kepada Tuhan, seseorang diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan hidup dengan lebih bijaksana.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....