Sejarah dan Tema Hari Bipolar Sedunia 2026
- 28 Mar 2026 14:51 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Peringatan World Bipolar Day atau Hari Bipolar Sedunia diperingati setiap 30 Maret. Pada tahun 2026, Hari Bipolar Sedunia mengangkat tema #BipolarStrong yang menyoroti ketangguhan para penyintas dalam menghadapi kondisi tersebut. Tema ini bertujuan membangun rasa kebersamaan dan pemberdayaan, sekaligus menggantikan stigma dengan empati dan pemahaman yang lebih baik di masyarakat.
Tanggal 30 Maret dipilih karena bertepatan dengan hari kelahiran Vincent van Gogh, yang secara anumerta didiagnosis kemungkinan mengalami gangguan bipolar. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global serta menghapus stigma terhadap gangguan kesehatan mental tersebut.
Hari Bipolar Sedunia pertama kali dimulai pada tahun 2014 melalui kolaborasi sejumlah organisasi internasional, seperti International Society for Bipolar Disorders (ISBD), International Bipolar Foundation (IBPF), dan Asian Network of Bipolar Disorder (ANBD). Inisiatif ini hadir untuk memberikan pemahaman yang lebih luas kepada masyarakat dunia mengenai gangguan bipolar serta mendorong empati terhadap para penyintasnya.
Secara medis, gangguan bipolar merupakan gangguan pada otak yang menyebabkan perubahan suasana hati, energi, serta aktivitas yang ekstrem. Kondisi ini berbeda dari perubahan emosi biasa, karena dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Diperkirakan prevalensi gangguan bipolar secara global berkisar antara 1 hingga 2 persen, bahkan dapat mencapai 5 persen pada beberapa kondisi.
Meskipun pemahaman terhadap gangguan bipolar mulai meningkat di sejumlah negara, stigma sosial masih menjadi hambatan besar dalam penanganannya. Banyak penyintas mengalami kesulitan mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat akibat pandangan negatif masyarakat. Oleh karena itu, peringatan Hari Bipolar Sedunia menjadi momentum penting untuk mengedukasi publik sekaligus membangun kepedulian terhadap kesehatan mental.
Sejumlah pihak, termasuk World Health Organization (WHO), turut mendukung peringatan ini sebagai bagian dari upaya global dalam meningkatkan kesehatan mental. “Hari Bipolar Sedunia merupakan kesempatan penting bagi para penyintas untuk berinteraksi dengan masyarakat dan meningkatkan kesadaran tentang gangguan ini,” ujar Manuel Sanchez de Carmona dari ISBD. Melalui peringatan ini, diharapkan masyarakat semakin memahami gangguan bipolar dan mendukung terciptanya layanan kesehatan mental yang lebih inklusif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....