Anak Muda Banua Gaungkan Budaya Lewat Teknologi Digital
- 15 Apr 2025 17:34 WIB
- Banjarmasin
KBRN, Banjarmasin: Ralin, S.Kom., M.Kom., dosen Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, bersama Veronika dan Fatimah mahasiswa Universitas Sari Mulya, saat mengisi siaran Pandiiran Bisukan di RRI Pro4 Banjarmasin, Senin (14/4/2025) menyampaikan obrolan hangat tentang bagaimana generasi muda dapat mengambil peran aktif dalam pelestarian budaya di tengah derasnya arus digitalisasi.
Menurut Ralin, penting bagi generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta konten yang memperkaya nilai-nilai budaya lokal. Saat ini sangat jarang aplikasi atau konten digital yang mengangkat budaya Banjar, padahal itu peluang besar untuk anak muda mengekspresikan kecintaan mereka terhadap budaya lewat media yang dekat dengan mereka.
"Teknologi bukanlah ancaman, melainkan alat strategis untuk menghidupkan kembali semangat berbudaya," ucap Ralin.
Veronika mengatakan, bahwa banyak temannya lebih mengenal budaya luar dibandingkan budaya sendiri. Saya merasa sedih ketika melihat anak-anak Banjar tidak tahu apa itu batimung atau piduduk, tapi sangat hafal tren budaya luar.
"Ini jadi motivasi bagi saya untuk mulai membuat konten edukasi di media sosial tentang budaya kita sendiri,” ucapnya.
Fatimah pun menambahkan bahwa mereka kini tengah mengembangkan ide aplikasi interaktif bertema budaya Banjar yang bisa diakses oleh generasi muda.
Ustadz Zaini yang turut memberikan pandangan lewat panggilan suara dalam siaran ini menekankan bahwa peran anak muda dalam menjaga nilai-nilai budaya tak bisa dilepaskan dari nilai spiritual.
“Teknologi adalah alat, namun ruh-nya tetap ada pada niat dan keikhlasan kita melestarikan budaya sebagai bentuk rasa syukur atas warisan leluhur,” ujarnya.
Ia juga berharap agar anak muda tidak hanya terfokus pada aspek viral atau hiburan semata, tetapi turut menyisipkan nilai-nilai edukatif dan moral dalam setiap karya digital.
Fatimah kemudian menyoroti tantangan yang dihadapi dalam menggunakan bahasa Banjar di konten digital. Bahasa Banjar kadang dianggap kampungan, padahal justru itu kekayaan kita.
"Kami ingin buat konten yang gaul tapi tetap pakai bahasa Banjar, supaya anak muda bisa merasa bangga,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa salah satu tantangan terbesarnya adalah mencari cara menyampaikan budaya secara menarik di tengah persaingan konten populer.
Siaran ini ditutup dengan ajakan bersama agar generasi muda tidak hanya menjadi konsumen budaya global, tetapi juga pelopor dalam membumikan budaya lokal. Teknologi adalah jembatan, dan anak muda adalah penyeberangnya. Kolaborasi antara nilai tradisional dan inovasi digital diyakini mampu menciptakan harmoni budaya yang tidak hanya lestari, tetapi juga relevan di era modern.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....