Menembus Meratus, Relawan Lintas Komunitas Edukasi Anak Papagaran
- 25 Agt 2026 14:02 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Kolaborasi empat organisasi (Bina Bersinar, Equal Institute, Sekolah Rakyat Merdeka, dan Kiyau Indonesia) menyediakan perlengkapan belajar dan kegiatan edukatif untuk anak-anak di Dusun Papagaran.
- Program ini menargetkan anak-anak di wilayah pedalaman Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan yang memiliki akses pendidikan terbatas.
- Rombongan relawan bertolak dari Banjarmasin pada 23 Agustus 2026 untuk menjangkau permukiman di kawasan Pegunungan Meratus dan melaksanakan kegiatan edukatif pada 24 Agustus 2026.
RRI.CO.ID, Hulu Sungai Tengah - Kolaborasi lintas komunitas menghadirkan perlengkapan belajar dan kegiatan edukatif bagi anak-anak di Dusun Papagaran, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Senin, 24 Agustus 2026. Kehadiran para relawan menjadi bentuk kepedulian terhadap pendidikan anak-anak di wilayah pedalaman Kalimantan Selatan.
Kegiatan tersebut melibatkan Bina Bersinar (BINAR), Equal Institute, Sekolah Rakyat Merdeka, dan Kiyau Indonesia. Rombongan bertolak dari Banjarmasin pada Minggu, 23 Agustus 2026, untuk menjangkau permukiman yang berada di kawasan Pegunungan Meratus.
Perjalanan menuju lokasi berlangsung sekitar tujuh jam 30 menit dengan medan yang cukup berat. Sebanyak enam jam 25 menit ditempuh menggunakan mobil, kemudian dilanjutkan dengan sepeda motor hingga mencapai dusun.
Jalur yang dilalui hanya dapat dilewati kendaraan roda dua karena berupa jalan tanah, belum beraspal, dan berlubang. Kondisi tersebut membuat para relawan harus bergantian menggunakan sepeda motor untuk mencapai tujuan.
Sesampainya di Papagaran, rombongan menyerahkan buku cerita, buku pengetahuan umum, buku mewarnai, pensil warna, dan alat tulis. Berbagai perlengkapan itu diperoleh dari donasi masyarakat serta dukungan LK3 Banjarmasin dan WALHI Kalimantan Selatan.
Pemilihan bahan bacaan dan alat pendukung disesuaikan dengan kebutuhan setempat. Buku mewarnai beserta pensil warna, misalnya, diprioritaskan setelah diketahui sebagian anak belum pernah menggunakannya.
Interaksi bersama anak-anak kemudian dilanjutkan melalui sejumlah aktivitas yang bersifat edukatif. Mereka diajak mendengarkan dongeng dengan boneka tangan bertema lingkungan serta bermain ular tangga yang memuat pengetahuan umum.
Salah satu guru di Dusun Papagaran, Marlina, S.Pd., menyambut baik kedatangan para relawan. Menurutnya, pemberian perlengkapan tersebut memberikan manfaat bagi peserta didik.
"Kami senang sekali didatangi dan diberikan hadiah seperti ini. Sangat bermanfaat untuk anak-anak," ujarnya.

Guru lainnya, Sikur, mengungkapkan keterbatasan tenaga pengajar menjadi salah satu persoalan dalam proses pendidikan. Selama 19 tahun mengabdi, ia menangani tiga kelas sekaligus dengan satu orang guru.
"Tantangannya luar biasa karena yang dihadapi tiga kelas dan yang mengajar satu orang. Satu papan tulis itu dibagi tiga, itu sangat unik sekali," ucap Sikur.
Menurutnya, siswa yang melanjutkan pendidikan ke SDN Haruyan Dayak 2 juga menghadapi kendala jarak dan medan. Mereka harus menempuh sekitar tujuh kilometer sekali perjalanan dengan jalur menanjak, sehingga jarak pulang-pergi mencapai 14 kilometer.
Relawan bernama Akhyar mengaku terharu melihat semangat anak-anak mengikuti kegiatan tersebut. Ia turut mengapresiasi para guru yang selama ini membangun fondasi pendidikan di tengah berbagai keterbatasan.
"Ketika saya berdiri di sini, melihat anak-anak yang antusias belajar, yang sudah dibangun fondasinya oleh guru-guru di sini, saya mengucapkan terima kasih banyak untuk para guru," ucapnya. "Mereka datang dengan antusias untuk belajar dan bermimpi, dan bagi kita, pendidikan itu adalah sebuah kemewahan."
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan di wilayah pedalaman masih menghadapi tantangan berupa akses geografis, jarak tempuh, dan keterbatasan tenaga pendidik. Sinergi berbagai komunitas diharapkan dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi anak-anak Papagaran untuk belajar, berkembang, dan mewujudkan cita-cita.
Kondisi tersebut menggambarkan tantangan pendidikan pedalaman, mulai dari jarak, medan geografis, hingga keterbatasan tenaga pengajar. Kolaborasi lintas komunitas diharapkan menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak-anak Dusun Papagaran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....