Tradisi Lahiran Banjar, Warisan Budaya dan Nilai Keislaman
- 09 Agt 2026 15:56 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Tradisi lahiran masyarakat Banjar merupakan warisan budaya turun-temurun yang penting dalam menyambut kelahiran anak sebagai momen istimewa keluarga.
- Berbagai tradisi kelahiran mencerminkan nilai budaya dan keagamaan yang masih hidup dan dipraktikkan di tengah masyarakat Banjar hingga saat ini.
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Kelahiran seorang anak menjadi momen istimewa bagi setiap keluarga. Bagi masyarakat Banjar, kehadiran anggota keluarga baru tidak hanya disambut dengan rasa syukur, tetapi juga melalui berbagai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Berbagai tradisi tersebut menjadi bagian dari perjalanan kehidupan masyarakat Banjar sekaligus mencerminkan nilai budaya dan keagamaan yang hidup di tengah masyarakat. Hal itu menjadi pembahasan dalam program Panderan Baisukan RRI Pro4 Banjarmasin, Jumat, 7 Agustus 2026, dengan tema “Tradisi Lahiran Masyarakat Banjar”.
Program tersebut menghadirkan Dr. Ali Muammar, Z.A., M.A., Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari Banjarmasin, serta Nur Aulia Untsa, mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Keduanya mengajak pendengar mengenal lebih dekat berbagai tradisi yang berkaitan dengan kelahiran dalam kehidupan urang Banjar.
Dalam perjalanan budaya masyarakat Banjar, kelahiran seorang anak memiliki makna penting. Berbagai prosesi yang menyertainya tidak sekadar menjadi kebiasaan keluarga, tetapi juga menjadi ruang untuk mengekspresikan rasa syukur, doa, harapan, dan kebersamaan.
Sejumlah kajian mengenai tradisi kelahiran masyarakat Banjar mencatat berbagai prosesi, seperti Bapalas Bidan, Batasmiyah atau Aqiqah, Batindik, Baayun, dan Bakhitan. Setiap tradisi memiliki bentuk dan makna yang berkembang sesuai dengan nilai budaya serta kehidupan masyarakat setempat.
Dr. Ali Muammar menjelaskan bahwa tradisi yang berkembang di tengah masyarakat perlu dipahami secara menyeluruh. Pemahaman tersebut tidak hanya melihat bentuk pelaksanaannya, tetapi juga nilai dan pesan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
“Tradisi tidak hanya berbicara tentang apa yang dilakukan,” ujarnya. “Tradisi juga berbicara tentang nilai dan pesan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.”
Sementara itu, Nur Aulia Untsa menyoroti pentingnya generasi muda mengenal tradisi yang berkembang di lingkungannya. Menurutnya, mengenal budaya sendiri dapat menjadi bagian dari upaya menjaga identitas masyarakat Banjar.
Ia menjelaskan bahwa tradisi kelahiran masyarakat Banjar juga memperlihatkan keterkaitan antara budaya lokal dan kehidupan keislaman masyarakat. Nilai-nilai tersebut turut membentuk karakter budaya masyarakat Banjar dari generasi ke generasi.
“Dalam perkembangannya, tradisi Banjar mengalami proses akulturasi dengan ajaran Islam,” ujarnya. “Sejumlah penelitian mencatat bahwa tradisi kelahiran masyarakat Banjar mengandung nilai keimanan, ibadah, dan akhlak.”
Menurutnya, tradisi perlu dipahami secara bijak dengan membedakan nilai budaya dan tuntunan agama. Pemahaman tersebut penting agar pelestarian budaya tetap berjalan tanpa mengabaikan nilai-nilai keislaman yang dianut masyarakat.
Di tengah perubahan zaman, sebagian tradisi kelahiran mulai jarang dilakukan, tetapi nilai budayanya tetap perlu dilestarikan. Generasi muda berperan mengenali, mendokumentasikan, dan meneruskan nilai positif tradisi sesuai perkembangan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....