Kekeringan Mengancam, Kalsel Menjaga Asa Ketahanan Pangan
- 16 Agt 2026 09:58 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Kekeringan telah mengakibatkan 6.691 hektare lahan pertanian di Kalimantan Selatan terdampak hingga akhir Juli 2026.
- Sebanyak 1,3 hektare lahan mengalami gagal panen (puso) akibat kekeringan yang berkepanjangan.
- Kalimantan Selatan dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional, sehingga kekeringan ini berpotensi memengaruhi ketahanan pangan daerah dan nasional.
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Kekeringan yang melanda sejumlah sentra pertanian Kalimantan Selatan mulai dirasakan petani dan berpotensi memengaruhi hasil panen. Hingga akhir Juli 2026, Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Kalsel mencatat 6.691 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan, dengan sekitar 1,3 hektare mengalami puso.
Bagi masyarakat Kalimantan Selatan, sawah bukan sekadar hamparan lahan penghasil padi. Lahan pertanian menjadi sumber kehidupan keluarga, penggerak ekonomi pedesaan, sekaligus fondasi ketahanan pangan daerah yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional.
Saat musim hujan, hamparan sawah menghijau dan menjadi penanda siklus tanam yang terus berlangsung. Namun, ketika kemarau datang lebih panjang, petani harus menghadapi berkurangnya pasokan air yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan produktivitas tanaman.
Salah seorang petani di Desa Tandipah, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Aisyah, mengatakan kemarau tahun ini cukup memengaruhi hasil panen. Kondisi lahan yang lebih kering membuat ketersediaan air menjadi tantangan selama musim tanam hingga panen.
"Tahun ini kemarau lumayan memengaruhi hasil panen. Air juga menjadi kendala karena kondisi lahan lebih cepat kering," ujar Aisyah, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Hal tersebut menggambarkan tantangan sektor pertanian ketika ketersediaan air mulai berkurang. Meski ribuan hektare lahan terdampak kekeringan, luas lahan yang mengalami puso masih relatif kecil sehingga peluang penyelamatan tanaman tetap terbuka melalui langkah mitigasi yang tepat.

Kepala BPTPH Kalimantan Selatan, Lestari Fatria Wahyuni, mengatakan pihaknya terus melakukan pengawalan melalui petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Pendampingan dilakukan untuk mengendalikan hama dan penyakit sekaligus mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap lahan pertanian.
Petugas POPT rutin turun ke lapangan memantau kondisi tanaman dan memberikan rekomendasi sesuai karakteristik wilayah. Koordinasi dengan penyuluh, pemerintah daerah, dan kelompok tani diperkuat agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat sebelum kekeringan berkembang menjadi ancaman gagal panen.
Di tingkat lahan, petani didorong memanfaatkan sumber air secara efisien. Penggunaan pompa air, pengaturan pola tanam, optimalisasi saluran irigasi, dan pemanfaatan embung menjadi bagian dari upaya menjaga tanaman tetap memperoleh pasokan air pada fase pertumbuhan yang menentukan.
Langkah itu penting karena perubahan iklim membuat pola musim semakin sulit diprediksi. Petani perlu semakin adaptif dalam menentukan strategi budi daya agar produktivitas tetap terjaga meskipun curah hujan mengalami penurunan.
Di sisi lain, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalimantan Selatan terus mengoptimalkan peningkatan produksi melalui percepatan tanam dan pemantauan perkembangan lahan. Upaya ini dilakukan untuk menjaga kesinambungan produksi pangan di seluruh kabupaten dan kota.
Kepala DPKP Kalimantan Selatan, Syamsir Rahman, mengatakan kekeringan terjadi di sejumlah sentra produksi padi yang memasuki musim panen. Meski belum ada lahan yang dinyatakan puso, ancaman gagal panen akan meningkat apabila penanganan tidak segera dilakukan.
"Hingga saat ini belum ada yang mengalami puso," ujar Syamsir. "Namun lahan tersebut terancam gagal panen jika tidak cepat ditangani."

Pemprov Kalsel bersama Kementerian Pertanian, Balai Wilayah Sungai Kalimantan III, BMKG, Perum Bulog, ATR/BPN, serta dinas pertanian kabupaten dan kota menyusun langkah mitigasi melalui rapat koordinasi. Salah satu langkah utama adalah memaksimalkan pompa air untuk mengairi lahan yang kekurangan pasokan.
Pemerintah juga mendorong percepatan masa tanam agar target panen raya pada akhir 2026 tetap tercapai. Langkah ini diharapkan menjaga kesinambungan produksi sekaligus mengurangi risiko gangguan pasokan pangan akibat perubahan cuaca.
Upaya menjaga produksi dilakukan di tengah peningkatan luas tambah tanam. Berdasarkan data DPKP Kalsel, Luas Tambah Tanam (LTT) tercatat 334.400 hektare pada 2023, meningkat menjadi 410.932 hektare pada 2024, dan kembali naik menjadi 478.837 hektare pada 2025.
Peningkatan luas tanam menunjukkan sektor pertanian Kalsel masih memiliki daya tahan dalam menghadapi perubahan iklim. Kondisi ini didukung kolaborasi pemerintah, penyuluh, kelompok tani, serta pemerintah kabupaten dan kota untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan usaha tani.
Kinerja sektor pertanian juga berkontribusi terhadap posisi Kalimantan Selatan sebagai daerah dengan ketahanan pangan terbaik di Indonesia. Berdasarkan Indeks Ketahanan Pangan (IKP) 2025, Kalsel meraih peringkat pertama nasional dengan nilai 81,98.
Peringkat itu tidak hanya menggambarkan kemampuan daerah dalam memproduksi pangan, tetapi juga upaya memastikan masyarakat memperoleh pangan yang aman dan bergizi. Untuk mempertahankannya, pemerintah perlu terus memperkuat produksi, cadangan pangan, distribusi, serta pemberdayaan petani.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus mendorong pemanfaatan teknologi pertanian, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan kelembagaan petani. Informasi kondisi lahan dan cuaca membantu petani menentukan waktu tanam, pola budi daya, hingga strategi pengelolaan air yang lebih efisien.

Di tengah perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi, kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting dalam menjaga produksi pangan. Pelatihan dan pendampingan petani diperlukan agar kemampuan mengelola risiko terus berkembang sesuai tantangan di lapangan.
Ketahanan sektor pertanian membutuhkan dukungan berkelanjutan melalui ketersediaan sarana produksi, akses terhadap sumber air, informasi cuaca, pendampingan teknis, dan koordinasi lintas sektor. Dukungan yang konsisten akan membantu petani menghadapi tekanan iklim sekaligus menjaga produktivitas lahan dalam jangka panjang.
Meski ancaman kekeringan masih membayangi, pemerintah optimistis produksi pangan Kalimantan Selatan tetap dapat dipertahankan. Sinergi antara pemerintah, penyuluh, petani, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci menjaga keberlanjutan sektor pertanian.
Di balik setiap butir padi yang berhasil dipanen, terdapat kerja keras petani yang bertahan menghadapi perubahan cuaca. Ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau besarnya produksi, tetapi juga kemampuan seluruh pihak menjaga keberlangsungan pertanian dari musim ke musim.
Dengan perencanaan matang, pemanfaatan teknologi, dan kolaborasi kuat, Kalimantan Selatan diharapkan mampu mempertahankan predikat sebagai provinsi dengan ketahanan pangan terbaik. Upaya itu sekaligus memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi secara berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....