Pasar Terapung Lok Baintan Jaga Pangan dan Tradisi

  • 09 Agt 2026 14:49 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Pasar Terapung Lok Baintan di Sungai Martapura menunjukkan bagaimana sungai tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan dan perekonomian masyarakat Kalimantan Selatan.
  • Transaksi di pasar tradisional mulai beradaptasi dengan pembayaran digital melalui QRIS.
  • Digitalisasi pembayaran dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian tradisi dan budaya masyarakat sungai.
  • Pasar Terapung Lok Baintan memiliki nilai strategis sebagai pusat ekonomi, pendukung ketahanan pangan, dan destinasi wisata budaya Kalsel.
  • Pasar Terapung Lok Baintan berperan dalam distribusi pangan dan menggerakkan ekonomi masyarakat di Kabupaten Banjar.

RRI.CO.ID, Banjar - Ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada kemampuan memproduksi bahan pangan, tetapi juga kelancaran distribusi hingga sampai kepada masyarakat. Di Kalimantan Selatan, Pasar Terapung Lok Baintan di Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, menjadi salah satu contoh perdagangan tradisional yang mendukung distribusi pangan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.

Setiap pagi, puluhan jukung memenuhi aliran Sungai Martapura membawa hasil pertanian, perkebunan, perikanan, buah-buahan, makanan tradisional, hingga produk olahan masyarakat. Aktivitas perdagangan di atas sungai tersebut tidak hanya menjadi ciri khas Kalimantan Selatan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sungai tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan dan perekonomian masyarakat Banua.

Aktivitas pasar berlangsung pada pagi hari ketika pedagang dan pembeli berinteraksi di antara jukung yang bergerak mengikuti arus sungai. Suasana tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena kegiatan ekonomi, kehidupan sungai, dan wisata budaya berlangsung dalam satu ruang yang sama.

Pedagang membawa komoditas dari petani, pekebun, nelayan, dan pelaku UMKM di sekitar kawasan sungai untuk ditawarkan langsung kepada masyarakat dan wisatawan. Pola perdagangan ini memperpendek rantai distribusi sehingga hasil produksi lebih cepat sampai kepada konsumen, sementara pedagang memperoleh akses pasar dan pendapatan dari barang yang dijual.

Salah seorang pedagang, Arbainah, mengatakan sebagian sayur dan buah yang dijualnya berasal dari kebun keluarga serta petani di sekitar Sungai Martapura. Menurutnya, membawa hasil kebun langsung ke pasar terapung membuat komoditas tetap segar sekaligus memberikan kesempatan kepada pedagang memperoleh pendapatan yang layak.

"Kalau hasil kebun langsung dibawa ke sini, sayurnya masih segar," ujar Arbainah, Rabu, 29 Juli 2026. “Pembeli juga senang karena kualitasnya bagus, sedangkan kami bisa menjual dengan harga yang layak.”

Arbainah (Acil Ibai), pedagang Pasar Terapung Lok Baintan, tetap menjaga tradisi perdagangan di atas jukung sekaligus menebarkan semangat berbagi kepada masyarakat. (Foto: RRI/Pahajilay)

Perputaran komoditas setiap pagi membuat hasil produksi masyarakat memiliki pasar dan membantu memenuhi kebutuhan konsumen. Aktivitas tersebut menunjukkan pasar tradisional tidak sekadar menjadi tempat transaksi, tetapi juga bagian dari mata rantai ketahanan pangan yang menghubungkan produsen, pedagang, dan pembeli.

Di tengah perkembangan teknologi, perdagangan tradisional juga mulai beradaptasi dengan sistem pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Berdasarkan data Bank Indonesia yang dilansir dari bi.go.id, hingga April 2026 QRIS telah digunakan oleh 63 juta pengguna dan lebih dari 45 juta merchant, dengan mayoritas merchant merupakan pelaku UMKM.

Pada triwulan II 2026, volume transaksi QRIS tumbuh 100,12 persen secara tahunan atau yoy. Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya penggunaan pembayaran digital oleh masyarakat dan pelaku usaha, termasuk usaha mikro dan kecil.

Dalam transaksi QRIS, penjual bertindak sebagai merchant yang menyediakan dan menampilkan kode QRIS miliknya. Pembeli kemudian menggunakan aplikasi pembayaran dari penyedia jasa pembayaran yang berizin Bank Indonesia untuk memindai kode, memasukkan nominal, dan mengonfirmasi pembayaran.

Setelah pembayaran dilakukan, pembeli perlu memastikan nama merchant dan nominal transaksi sudah sesuai sebelum menyelesaikan pembayaran. Penjual juga harus memastikan transaksi berhasil melalui notifikasi pembayaran sebelum menyerahkan barang kepada pembeli.

Penggunaan QRIS memberikan pilihan transaksi nontunai yang praktis bagi pedagang dan konsumen. Satu kode QRIS dapat menerima pembayaran dari berbagai aplikasi yang mendukung QRIS sehingga penjual tidak perlu menyediakan banyak kode pembayaran berbeda.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan, Haris Munandar, saat memberikan keterangan dalam kegiatan Pamor Borneo 2026, Jumat, 7 Agustus 2026. (Foto: RRI/Yudi)

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan, Haris Munandar, mengatakan perluasan akseptasi pembayaran digital diarahkan untuk memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan digital yang inklusif. Hal tersebut disampaikan saat kegiatan Pamor Borneo 2026, Jumat, 7 Agustus 2026.

"Kita juga menghadirkan QRIS Tap yang memungkinkan transaksi dilakukan dengan menempelkan ponsel pada mesin pembayaran," ujarnya. “Inovasi ini dinilai dapat mempercepat proses transaksi sekaligus memperluas pemanfaatan pembayaran digital dalam berbagai aktivitas masyarakat.”

Penerapan pembayaran digital tidak harus menghilangkan karakter tradisional Pasar Terapung Lok Baintan. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana bagi pedagang untuk mempertahankan aktivitas ekonomi sekaligus menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan konsumen.

Sementara itu, pengunjung asal Banjarmasin, Khairuddin, mengaku tertarik datang karena produk yang dijual beragam dan masih segar. Ia juga menikmati pengalaman berbelanja langsung dari jukung yang menurutnya berbeda dengan pasar konvensional.

"Saya datang pagi supaya banyak pilihan," ujarnya. “Belanja langsung dari penjual di atas jukung terasa lebih puas dan menjadi pengalaman yang berbeda, apalagi sekarang pembayaran juga bisa dilakukan secara digital melalui QRIS.”

Wisatawan asal Jakarta, Deddy, menilai Pasar Terapung Lok Baintan bukan sekadar destinasi wisata, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat sungai yang berlangsung secara turun-temurun. Menurutnya, aktivitas perdagangan di atas sungai menunjukkan tradisi lokal dapat terus berkembang tanpa kehilangan karakter budayanya.

"Pasar ini membuktikan tradisi bisa tetap hidup sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat," ucap Deddy. “Menurut saya, keberadaan Pasar Terapung Lok Baintan perlu terus dilestarikan karena memiliki nilai budaya sekaligus manfaat ekonomi bagi warga.”

Arbainah (Acil Ibai) berbagi buah kepada anak-anak sekolah dari atas jukung di Pasar Terapung Lok Baintan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat sekitar. (Foto: RRI/Pahajilay)

Keberadaan Pasar Terapung Lok Baintan memperlihatkan bahwa pelestarian budaya, ketahanan pangan, pariwisata, dan transformasi ekonomi digital dapat berjalan beriringan. Distribusi hasil bumi melalui jukung menjaga hubungan produsen dan konsumen, sedangkan QRIS memberikan pilihan transaksi praktis bagi penjual dan pembeli.

Penguatan pasar terapung tidak cukup hanya dengan mempertahankan aktivitas jual beli di atas sungai. Pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan lembaga terkait perlu menjaga kualitas komoditas, kebersihan lingkungan, keamanan pangan, serta meningkatkan literasi digital agar pasar tradisional mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Pasar Terapung Lok Baintan bukan hanya ruang transaksi ekonomi, tetapi juga cermin kehidupan masyarakat sungai di Kalimantan Selatan. Dengan mempertahankan tradisi, memperkuat distribusi pangan lokal, dan memanfaatkan teknologi pembayaran secara aman, pasar terapung dapat terus menjadi bagian penting dari ekonomi sekaligus identitas budaya Banua.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....