Arbainah Menjaga Tradisi dan Semangat Berbagi di Pasar Terapung Lok Baintan
- 01 Agt 2026 09:17 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Arbainah, yang akrab disapa Acil Ibai, terus menjaga tradisi berdagang di atas jukung di Pasar Terapung Lok Baintan selama puluhan tahun sambil menyebarkan semangat berbagi kepada masyarakat.
- Perjalanan Arbainah sebagai pedagang dimulai pada tahun 1990 ketika ia membantu ayahnya menjual hasil bumi di kawasan Muara Kuin dengan menggunakan jukung sebagai alat transportasi dagang.
- Transformasi digital melalui media sosial membantu memperluas pemasaran, menarik wisatawan, sekaligus memudahkan aksi sosial.
- Penerapan QRIS melengkapi transaksi di pasar terapung tanpa menghilangkan keunikan jual beli tradisional di atas sungai.
- Kolaborasi masyarakat, pedagang, Bank Indonesia, dan pemerintah menjadi kunci menjaga Pasar Terapung sebagai warisan budaya sekaligus memperkuat perekonomian dan ketahanan pangan lokal.
RRI.CO.ID, Banjar - Di tengah aktivitas Pasar Terapung Lok Baintan yang tetap bertahan sebagai ikon wisata sungai di Kalimantan Selatan, Arbainah atau yang akrab disapa Acil Ibai terus menjaga tradisi berdagang di atas jukung. Selama puluhan tahun, ia tidak hanya menjual hasil bumi, tetapi juga menebarkan semangat berbagi kepada masyarakat.
Perjalanan Arbainah sebagai pedagang dimulai pada 1990 saat membantu ayahnya berjualan di kawasan Muara Kuin. Sejak saat itu, ia membawa berbagai hasil kebun, seperti pepaya, semangka, singkong, dan komoditas lainnya menggunakan jukung untuk dipasarkan di sungai.
"Pada tahun 1990 ulun sudah berjualan bersama bapak di Kuin," ujarnya, Rabu, 29 Juli 2026. "Dulu kami membawa berbagai hasil kebun seperti pepaya, semangka, dan singkong untuk dijual."
Menurut Arbainah, sebelum dikenal sebagai Pasar Terapung Lok Baintan, masyarakat Banjar lebih akrab menyebut aktivitas perdagangan di atas sungai sebagai sambangan. Tradisi tersebut menjadi ruang bertemu, bertukar, sekaligus bertransaksi antarpedagang maupun pembeli.
Semangat gotong royong pun tetap terjaga hingga kini. Ketika dagangan habis, sebagian pedagang membeli kembali hasil bumi milik pedagang lain untuk dipasarkan, sementara sebagian lainnya menjual hasil panen dari kebun sendiri.

Aktivitas perdagangan dimulai sejak fajar menyingsing di Desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar. Mulai pukul 06.00 hingga sekitar 09.00 Wita, Sungai Martapura dipenuhi deretan jukung yang membawa hasil bumi dan kuliner khas Banjar.
"Ulun mulai berjualan dari pukul enam pagi sampai sekitar pukul sembilan. Waktu itulah pembeli paling ramai datang ke pasar terapung," kata Acil Ibai.
Di balik rutinitas berdagang, Arbainah dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat sekitar. Sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang diperoleh, ia rutin membagikan buah dan makanan kepada anak-anak serta menyalurkan bantuan kepada warga yang membutuhkan.
Kepedulian itu dirasakan langsung oleh anak-anak di sekitar pasar. Salah satunya Arif, siswa SD Sungai Pinang, yang mengaku sering menunggu kedatangan Acil Ibai di dermaga dekat Masjid At Taubah.
"Ulun sering menunggu Acil Ibai di dermaga dekat Masjid At Taubah. Senang sekali kalau Acil Ibai datang karena sering membagikan buah kepada kami," ujar Arif.
Aksi sosial tersebut mendapat dukungan dari para donatur yang mengenal Arbainah melalui siaran langsung di akun TikTok @acil_ibay_. Bantuan berupa hadiah virtual (gift) maupun donasi uang kemudian disalurkan kepada anak-anak dan masyarakat kurang mampu.
"Media sosial sangat membantu ulun untuk berbagi," ujarnya. "Banyak orang membeli dagangan sekaligus menitipkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan."
Bagi Arbainah, transformasi digital tidak hanya membuka peluang memperluas pemasaran, tetapi juga memperkenalkan Pasar Terapung Lok Baintan kepada masyarakat yang lebih luas. Siaran langsung yang dilakukan setiap pagi mampu menarik pembeli, wisatawan, sekaligus menghubungkan para donatur dengan warga yang membutuhkan bantuan.

Transformasi digital di kawasan pasar terapung juga diperkuat melalui penerapan sistem pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Sejak 2019, Bank Indonesia menggencarkan sosialisasi QRIS kepada para pedagang di kawasan Sungai Martapura sebagai bagian dari pengembangan ekonomi digital.
QRIS yang diberlakukan secara nasional mulai 1 Januari 2020 memudahkan transaksi nontunai tanpa menghilangkan keunikan jual beli di atas jukung. Kehadiran sistem pembayaran digital tersebut melengkapi transaksi tunai sehingga pasar terapung tetap relevan mengikuti perkembangan teknologi.
Saat sosialisasi QRIS di Banjarmasin, Deputi Gubernur Bank Indonesia saat itu, Rosmaya Hadi, mengatakan penerapan QRIS di daerah merupakan salah satu upaya mendorong pertumbuhan ekonomi digital. Menurutnya, perkembangan pembayaran digital di Kalimantan Selatan diharapkan mampu memperkuat perekonomian masyarakat tanpa menghilangkan nilai budaya pasar terapung.
Meski aktif memanfaatkan teknologi, Arbainah mengaku masih sering tersentuh ketika bertemu warga yang hidup dalam keterbatasan. Pengalaman itulah yang mendorongnya terus menggalang bantuan dan mengajak masyarakat berbagi.
Ia juga berharap pemerintah terus mendukung pelestarian Pasar Terapung Lok Baintan melalui berbagai kegiatan budaya dan pembinaan kepada para pedagang. Menurutnya, keramahan pedagang menjadi salah satu faktor penting untuk memberikan kesan baik kepada wisatawan.
"Harapan ulun, pasar terapung ini terus dijaga dan dilestarikan setiap tahun," ucap Acil Ibai. "Kami juga berharap pedagang terus dibina agar semakin ramah dalam melayani tamu."
Arbainah meyakini pelestarian Pasar Terapung Lok Baintan memerlukan kolaborasi pemerintah, pedagang, dan masyarakat. Dengan semangat kebersamaan, ia berharap pasar terapung tetap menjadi kebanggaan Kalimantan Selatan sekaligus warisan budaya yang terus hidup bagi generasi mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....