Peribahasa Banjar Makan Nasi Kawah Ajarkan Hidup Mandiri

  • 05 Okt 2026 06:35 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Peribahasa Banjar “makan nasi kawah” mengandung pesan agar anak mampu hidup mandiri. Ungkapan tersebut membahas kebiasaan bergantung kepada orang tua yang telah mapan secara ekonomi.

Makna peribahasa tersebut dibahas dalam siaran Ragam Budaya “Bacangkurah” RRI Pro4 Banjarmasin, Jumat, 2 Oktober 2026. Program tersebut menghadirkan Noorhalis Majid bersama akademisi Arif Rahman Hakim sebagai narasumber tamu.

Noorhalis menjelaskan, kawah merupakan periuk besar yang biasanya digunakan memasak nasi saat hajatan. Besarnya wadah tersebut menjadi perumpamaan kehidupan yang serba tersedia karena ditopang orang tua.

“Makan nasi kawah ini satu sindiran, di mana anak selalu bergantung kepada orang tua,” ujar Noorhalis.

Menurutnya, ungkapan tersebut bukan sekadar menggambarkan ketergantungan ekonomi. Makan nasi kawah juga menyindir pola pengasuhan yang terlalu memanjakan anak hingga menghambat kemandiriannya.

Arif Rahman Hakim menilai, anak yang terlalu dimanjakan berpotensi kesulitan menghadapi persoalan ketika tidak lagi mendapat bantuan orang tua. Kondisi tersebut dapat membuat kemampuan anak dalam menyelesaikan masalah dan bertahan hidup tidak berkembang.

“Kalau terlalu dimanjakan, anak ngalih juga. Ketika dihadapkan dengan masalah, ia kada tahu mengatasi masalahnya,” kata Arif.

Ia menambahkan, bentuk kasih sayang orang tua tidak selalu berarti menyelesaikan seluruh persoalan anak. Menurutnya, memberikan kesempatan kepada anak menghadapi masalah dapat menjadi bagian dari pendidikan kemandirian.

Noorhalis menekankan, orang tua sebaiknya membekali anak dengan pendidikan, pengetahuan, pengalaman, nilai kehidupan, dan ajaran agama. Bekal tersebut diharapkan membuat anak mampu menjadi perintis, bukan sekadar bergantung sebagai pewaris.

“Walaupun kuitan kita sugih, kita harus menjadi perintis, bukan penarus atau pewaris,” ucap Noorhalis.

Peribahasa “makan nasi kawah” akhirnya menjadi pengingat bahwa kemapanan orang tua tidak berlangsung selamanya. Anak tetap perlu membangun kemampuan sendiri agar tidak menjadi beban dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....