Memayu Hayuning Bawana, Falsafah Jawa Menjaga Harmoni Alam
- 18 Sep 2026 16:34 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Falsafah Memayu Hayuning Bawana berakar pada tradisi pemikiran Jawa Kuno yang berkembang sejak masa kerajaan Hindu-Buddha dan terus berkembang pada masa Islam Jawa.
- Falsafah ini menjadi prinsip dan pedoman hidup masyarakat Jawa untuk mencapai keselamatan (kaslametan) dan kebahagiaan, bukan sekadar konsep abstrak semata.
- Nilai merawat dunia dalam falsafah Memayu Hayuning Bawana diterapkan secara konkret dalam pengelolaan tanah, air, hutan, serta hubungan sosial masyarakat Jawa.
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Falsafah Memayu Hayuning Bawana berakar pada tradisi pemikiran Jawa Kuno yang berkembang sejak masa kerajaan Hindu-Buddha di Jawa dan mengalami internalisasi lebih lanjut pada masa Islam Jawa. Falsafah ini menjadi prinsip dan pedoman hidup masyarakat Jawa untuk mencapai keselamatan (kaslametan) dan kebahagiaan, bukan sekadar konsep abstrak.
Hal tersebut disampaikan Sulisno, S.Sn., M.A., dalam program Ragam Budaya Sambung Roso RRI Pro4 Banjarmasin, Rabu, 16 September 2026. Menurutnya, nilai memayu atau merawat dunia tidak dapat dipisahkan dari cara masyarakat Jawa mengelola tanah, air, hutan, serta hubungan sosial di sekitarnya.
"Sebelum kita mengendalikan lingkungan luar, kita kendalikan dulu diri kita," ujarnya. "Bagaimana kita memayu hayuning bawana yang ada di diri kita dengan berperilaku yang baik dan membuat kesejukan dalam diri."
Sulisno menguraikan sejumlah nilai inti dalam falsafah Memayu Hayuning Bawana. Nilai tersebut meliputi keselarasan, kesederhanaan, kesadaran diri, dan tanggung jawab moral.
Menurutnya, masyarakat Jawa memandang kerukunan sebagai fondasi stabilitas sosial dan ekologis. Kehidupan yang baik diwujudkan melalui hubungan yang rukun, baik dengan sesama manusia maupun dengan alam.
Selain itu, masyarakat Jawa diajarkan untuk tidak berlebihan dalam memanfaatkan sumber daya alam. Prinsip tersebut menjadi bentuk etika pembatasan diri untuk mencegah eksploitasi dan kerusakan lingkungan.
Kesadaran terhadap batas diri dan kehati-hatian dalam bertindak menjadi bagian penting dalam menjaga tatanan alam. Sebab, kerusakan lingkungan dinilai membawa konsekuensi etis dan spiritual yang dapat mengganggu keseimbangan kosmos serta nilai kemanusiaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....