Makna “Busak-Busak Bahinak”, Ungkapan Banjar tentang Kabut Asap
- 16 Sep 2026 14:59 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Tradisi lisan Bakisah, Basyair, dan Madihin menjadi media komunikasi masyarakat Banjar untuk menyampaikan pesan tentang persoalan kehidupan termasuk isu lingkungan seperti kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap.
- H. Anang Syahrani, maestro Madihin Kalimantan Selatan, menggunakan ungkapan budaya lokal 'Busak-Busak Bahinak' untuk menggambarkan kondisi kesulitan bernapas akibat udara yang diselimuti asap.
- Seni tradisional Banjar menjadi sarana efektif untuk menyampaikan isu-isu sosial dan lingkungan dengan bahasa dan budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat lokal.
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Tradisi lisan Bakisah, Basyair, dan Madihin menjadi salah satu media masyarakat Banjar untuk menyampaikan pesan tentang berbagai persoalan kehidupan. Melalui seni tersebut, kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap di Kalimantan Selatan dapat disampaikan dengan bahasa budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan oleh H. Anang Syahrani dalam acara Ragam Budaya Madihin Syair Bakisah di RRI Pro4 Banjarmasin, Selasa malam, 15 September 2026. Maestro Madihin Kalimantan Selatan itu mengangkat ungkapan Banjar “Busak-Busak Bahinak” untuk menggambarkan kondisi sulit bernapas akibat udara yang diselimuti asap.
H. Anang Syahrani menjelaskan “Busak-Busak Bahinak” merupakan istilah lama dalam bahasa Banjar yang menggambarkan kondisi seseorang ketika mengalami sesak napas. Ungkapan tersebut memiliki makna yang sejalan dengan istilah “ngalih bahinak” yang juga menggambarkan kesulitan bernapas.
“Ini adalah istilah peninggalan bahari yang artinya sesak napas. Maknanya senada dengan ungkapan lain, yaitu ‘ngalih bahinak’,” ujar Anang Syahrani.
Menurutnya, ungkapan tersebut tidak hanya menggambarkan ketidaknyamanan akibat asap, tetapi juga menjadi pengingat terhadap dampak karhutla bagi kesehatan masyarakat. Kondisi kabut asap perlu mendapat perhatian karena persoalannya tidak sebatas lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan warga.
Ia menilai pesan yang disampaikan melalui seni budaya cenderung lebih mudah diterima karena menggunakan bahasa dan gambaran yang dekat dengan kehidupan masyarakat Banjar. Ungkapan lama seperti “Busak-Busak Bahinak” dinilai masih relevan untuk menggambarkan kondisi lingkungan yang terjadi saat ini.
“Busak-Busak Bahinak merupakan gambaran ketidaknyamanan saat udara diselimuti asap,” ucap Anang Syahrani. “Meskipun merupakan istilah lama, ungkapan ini masih relevan dengan kondisi yang kita hadapi saat ini.”
Melalui seni Bakisah, Basyair, dan Madihin, ia mengajak masyarakat serta seluruh pihak meningkatkan kepedulian terhadap pencegahan dan penanganan karhutla. Menurutnya, upaya tersebut perlu dilakukan melalui langkah nyata sekaligus ikhtiar spiritual, salah satunya dengan melaksanakan salat istisqa.
“Semoga berbagai upaya maupun doa akan membawa perubahan,” ujarnya. “Masyarakat tidak lagi ‘ngalih bahinak’ dan dapat kembali menjalani aktivitas dengan udara yang lebih baik.”
H. Anang Syahrani mengajak masyarakat menjadikan tradisi budaya sebagai sarana menyampaikan pesan tentang kepedulian terhadap lingkungan. Ia berharap upaya bersama dapat mencegah karhutla dan mengurangi dampak kabut asap sehingga masyarakat tidak lagi “ngalih bahinak”.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....