Putri Wulan Berdayakan Anak Jalanan lewat Literasi Sasirangan
- 07 Sep 2026 18:42 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Putri Wulan, Runner Up 1 Puteri Muslimah Sasirangan Kalimantan Selatan 2026, meluncurkan program sosial pemberdayaan anak jalanan melalui edukasi budaya lokal dan pelatihan keterampilan Sasirangan.
- Program ini dirancang untuk mengenalkan warisan budaya Banjar sambil memberikan ruang belajar dan pengembangan keterampilan bagi anak-anak yang membutuhkan perhatian.
- Inisiatif Putri Wulan menggabungkan pelestarian budaya dengan pemberdayaan sosial untuk menciptakan dampak positif bagi komunitas anak jalanan di Banjarmasin.
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Runner Up 1 Puteri Muslimah Sasirangan Kalimantan Selatan 2026, Putri Wulan, mengusung program sosial untuk memberdayakan anak jalanan melalui edukasi budaya lokal. Program tersebut bertujuan mengenalkan keterampilan membuat Sasirangan sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya Banjar.
Hal tersebut disampaikan Putri Wulan dalam siaran "Cerita di Siang Hari" RRI Pro1 Banjarmasin, Rabu, 2 September 2026. Menurutnya, pelestarian budaya dapat dilakukan bersamaan dengan upaya memberikan ruang belajar dan pengembangan keterampilan bagi anak-anak yang membutuhkan perhatian.
Program yang digagas bernama LISAN atau Literasi Sasirangan Anak Jalanan dan dijalankan melalui kolaborasi dengan yayasan lokal. Peserta dikenalkan dengan proses pembuatan kain Sasirangan, termasuk teknik menjelujur dan pemahaman terhadap motif khas Banjar.
"Program LISAN merupakan singkatan dari Literasi Sasirangan Anak Jalanan untuk memberdayakan anak-anak jalanan agar mereka memahami pembuatan kain Sasirangan," ujarnya. “Kami ingin budaya lokal tidak hanya dikenal, tetapi juga dipelajari secara langsung oleh generasi muda.
Selain pelatihan keterampilan, Putri Wulan turut mengenalkan budaya Banjar melalui kesenian Bapandung dalam ajang unjuk bakat. Seni tutur tersebut dikemas melalui cerita bertajuk "Sasirangan Si Aluh" yang mengangkat pesan pelestarian kain tradisional kepada masyarakat.
Menurutnya, Sasirangan juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari gaya busana anak muda. Kain tradisional tersebut dapat dipadukan dengan berbagai busana modern tanpa meninggalkan karakter dan nilai budaya yang melekat.
"Amun kada kita siapa lagi, mun kada wahini pabila lagi untuk melestarikan warisan kain Sasirangan," ucapnya. “Pelestarian harus dimulai dari generasi kita agar kain Sasirangan tetap dikenal dan digunakan.”
Komitmen tersebut juga diarahkan pada pengembangan usaha di bidang tekstil daerah. Putri Wulan menargetkan dapat membangun merek busana Sasirangan secara mandiri sekaligus membuka peluang kerja bagi pengrajin lokal.
"Saya memiliki niatan lima tahun ke depan ingin menjadi pengrajin Sasirangan yang memiliki merek sendiri serta menaungi banyak pekerja," katanya. “Saya ingin usaha tersebut ikut memberikan manfaat bagi masyarakat dan pengrajin di Kalimantan Selatan.”
Melalui program sosial dan rencana pengembangan usaha tersebut, Putri Wulan berharap semakin banyak generasi muda terlibat dalam pelestarian budaya Banjar. Upaya tersebut sekaligus diharapkan membuka ruang pemberdayaan bagi masyarakat melalui keterampilan berbasis budaya lokal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....