Baiman, Bauntung, Batuah Jadi Pedoman Jaga Lingkungan
- 06 Sep 2026 15:51 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Nilai Baiman, Bauntung, dan Batuah dalam tradisi Banjar dapat menjadi pedoman masyarakat dalam menjaga lingkungan di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan.
- Nilai-nilai tersebut tidak hanya bermakna sebagai doa dan nasihat tetapi juga sebagai panduan konkret dalam perilaku memperlakukan alam.
- Dosen UIN Antasari Banjarmasin, M. Rais Nasruddin, menjelaskan keterkaitan nilai-nilai tradisional Banjar dengan etika lingkungan melalui siaran Pandiran Baisukan RRI Pro4 Banjarmasin.
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Nilai Baiman, Bauntung, Batuah dinilai dapat menjadi pedoman masyarakat Banjar dalam menjaga lingkungan di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Nilai tersebut tidak hanya dimaknai sebagai doa dan nasihat, tetapi juga sebagai pedoman perilaku dalam memperlakukan alam.
Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari Banjarmasin, M. Rais Nasruddin, M.Ag., dalam siaran Pandiran Baisukan RRI Pro4 Banjarmasin, Jumat, 4 September 2026. Rais hadir bersama Muhammad Ilyas, mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, dengan tema “Nilai Baiman, Bauntung, Batuah sebagai Etika Lingkungan di Tengah Ancaman Karhutla”.
Rais menjelaskan, Baiman yang berakar dari kata iman tidak cukup hanya diyakini dalam hati, tetapi perlu diwujudkan melalui perilaku sehari-hari. Salah satunya dengan menjaga alam dan tidak melakukan tindakan yang menimbulkan kerusakan di muka bumi.
Dalam konteks Karhutla, pembakaran lahan secara sengaja demi kepentingan pribadi dinilai tidak sejalan dengan nilai Baiman. Tindakan tersebut dapat menimbulkan dampak luas, mulai dari gangguan kesehatan, aktivitas pendidikan dan perekonomian, hingga kerusakan ekosistem.
Sementara itu, Bauntung tidak hanya berarti memperoleh keuntungan secara ekonomi. Menurut Rais, setiap upaya memperoleh keuntungan perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan.
“Ketika dia ingin mengambil keuntungan, maka perlu melihat akibatnya. Apakah ini merugikan orang lain atau tidak?” kata Rais.
Ia mencontohkan, asap akibat Karhutla tidak hanya dirasakan pelaku pembakaran, tetapi juga masyarakat yang tidak terlibat. Anak-anak, balita, lansia, pekerja di luar ruangan, hingga hewan dan tumbuhan turut merasakan dampaknya.
| Baca juga: Selawat Penyejuk Hati dan Keutamaannya |
Adapun Batuah, menurut Rais, berkaitan dengan manfaat dan keberkahan. Perilaku yang mencerminkan nilai tersebut harus mampu memberikan kebaikan dan manfaat secara berkelanjutan, termasuk bagi lingkungan dan generasi mendatang.
“Ketika ingin disebut Batuah, setiap perilakunya perlu menampilkan dan menghasilkan kebaikan serta kebermanfaatan secara terus-menerus,” ucapnya. “Kebaikan tersebut juga harus dirasakan dan memberikan manfaat bagi lingkungan.”
Muhammad Ilyas menilai dampak Karhutla tahun ini dirasakan cukup lama oleh masyarakat. Selain mengganggu kesehatan, kabut asap juga berdampak terhadap kegiatan belajar mengajar dan pekerjaan yang mengharuskan masyarakat beraktivitas di luar ruangan.
Menurut Ilyas, Karhutla merupakan persoalan bersama sehingga penanganannya membutuhkan sinergi pemerintah dan masyarakat. “Pemerintah harus jadi garda terdepan, masyarakat pasti akan bahu-membahu membantu dalam proses penanggulangan sebagai bentuk sinergitas,” ujar Ilyas.
Rais mengatakan, penanaman nilai Baiman, Bauntung, Batuah membutuhkan proses dan tidak dapat dilakukan secara instan. Pendidikan karakter perlu berjalan dalam jangka panjang, disertai langkah teknis berupa edukasi, pengawasan, serta perencanaan pencegahan Karhutla.
Pemanfaatan data titik panas atau hotspot dari satelit juga dinilai dapat membantu upaya pencegahan. Data tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi wilayah rawan kebakaran dan menyiapkan langkah antisipasi, termasuk ketersediaan sumber air untuk pemadaman.
Pendekatan kepada masyarakat yang masih membuka lahan dengan cara membakar juga perlu dilakukan melalui edukasi dan dialog. Menurut Rais, pendekatan tersebut perlu mempertimbangkan aspek adat dan kondisi ekonomi masyarakat agar solusi yang diberikan tidak hanya berupa larangan.
“Ini masalah bersama sebenarnya. Tidak bisa hanya dari sisi agamanya saja. Agama menawarkan fondasi untuk perubahan karakter, tetapi sistemnya perlu dipikirkan bersama,” ujar Rais.
Ia menambahkan, pengecekan kembali setelah pemadaman penting dilakukan, terutama di kawasan lahan gambut atau rawa. Api yang terlihat padam di permukaan masih dapat menyala di bawah tanah dan kembali memicu kebakaran sehingga pemantauan perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....