Ungkapan Banjar “Manis Habar pada Rupa” Ajarkan Kehati-hatian
- 05 Sep 2026 08:11 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Ungkapan 'Manis Habar pada Rupa' dalam budaya Banjar menggambarkan kabar yang terdengar sangat baik tetapi kenyataannya berbeda setelah dibuktikan.
- Noorhalis Majid, penulis buku tentang ungkapan bahasa Banjar, menjelaskan ungkapan ini menjadi pengingat agar masyarakat tidak terburu-buru mempercayai informasi tanpa memverifikasi fakta.
- Ungkapan tersebut juga dapat menjadi bentuk sindiran halus terhadap kabar atau janji yang tidak sesuai dengan kenyataan, mencerminkan kebijaksanaan budaya lokal.
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Ungkapan “Manis Habar pada Rupa” dalam budaya Banjar menggambarkan kabar yang terdengar sangat baik, tetapi kenyataannya berbeda setelah dibuktikan. Ungkapan tersebut menjadi pengingat agar masyarakat tidak terburu-buru mempercayai informasi sebelum mengetahui fakta sebenarnya.
Hal tersebut disampaikan oleh Noorhalis Majid dalam acara Ragam Budaya Bacangkurah di RRI Pro4 Banjarmasin, Jumat, 4 September 2026. Penulis sejumlah buku tentang ungkapan bahasa Banjar itu menjelaskan bahwa ungkapan tersebut juga dapat menjadi bentuk sndiran halus terhadap kabar atau janji yang tidak sesuai kenyataan.
“Manis Habar pada Rupa hanya enak dilihat atau didengar saja, tetapi faktanya bisa jauh berbeda setelah dilihat atau dibuktikan secara langsung,” ujar Noorhalis Majid. “Karena itu, kita perlu melihat kenyataan sebelum mempercayai sebuah kabar.”
Menurutnya, ungkapan tersebut mengajarkan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menerima informasi dan tidak langsung mempercayainya sebagai sebuah kebenaran. Selain itu, maknanya juga dapat diterapkan pada berbagai kabar atau janji yang terdengar menarik, tetapi belum tentu sesuai dengan kondisi sebenarnya.
“Ini adalah ungkapan yang menggambarkan kabar yang lebih indah dari kenyataannya,” jelas Noorhalis. “Saat disampaikan begitu luar biasa, ternyata biasa saja setelah dilihat langsung dan bahkan bisa jauh dari harapan.”
Ia mengatakan kondisi semacam itu dapat terjadi dalam berbagai persoalan kehidupan, seperti informasi bantuan, tunjangan, pembangunan jalan, peningkatan ekonomi, hingga janji kenaikan penghasilan. Masyarakat perlu membuka ruang untuk kemungkinan bahwa kenyataan tidak selalu sesuai dengan informasi yang diterima.
“Itulah pentingnya kita menyiapkan ruang untuk kemungkinan bahwa kenyataannya bisa berbeda. Jangan percaya 100 persen jika mendengar setiap kabar sebelum mengetahui faktanya,” ujarnya.
Menurut Noorhalis, sikap hati-hati penting agar masyarakat tidak mudah kecewa ketika harapan yang dibangun dari sebuah kabar tidak terwujud. Terlebih di era digital, informasi dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial tanpa terlebih dahulu diketahui kebenarannya.
Masyarakat, lanjutnya, perlu membiasakan diri memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan melihat fakta sebelum mengambil kesimpulan atau menyebarkan kembali sebuah kabar. Langkah tersebut penting untuk mencegah kesalahpahaman dan penyebaran informasi yang tidak sesuai kenyataan.
“Biasanya semakin manis kabar atau janjinya, semakin tinggi juga potensi kecewanya,” ucap Noorhalis Majid. “Karena itu, kita perlu lebih bijak dan memastikan kebenaran sebelum mempercayainya.”
Melalui ungkapan “Manis Habar pada Rupa”, Noorhalis mengajak masyarakat lebih bijak dalam menyikapi informasi sekaligus mengelola harapan. Menurutnya, kabar boleh menimbulkan rasa senang, tetapi kenyataan tetap harus menjadi ukuran utama.
“Datangnya sebuah kabar boleh membuat kita senang dan berharap, tetapi kenyataan tetap harus menjadi ukuran,” ujarnya. “Yang dilihat jangan hanya manis kabarnya, tetapi lihat juga bagaimana faktanya.
Noorhalis Majid mengajak masyarakat agar tidak mudah percaya pada kabar yang terdengar indah sebelum membuktikan kebenarannya. Sikap kritis dan kehati-hatian penting agar masyarakat tidak mudah kecewa maupun ikut menyebarkan informasi yang tidak sesuai fakta.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....