Sasirangan Tetap Lestari lewat Inovasi dan Ekonomi Kreatif
- 01 Agt 2026 10:01 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Kain Sasirangan tidak hanya dikenal sebagai kain khas Kalimantan Selatan, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya masyarakat Banjar yang terus bertahan hingga kini. Warisan budaya yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2013 itu terus berkembang melalui inovasi produk dan industri ekonomi kreatif.
Hal tersebut disampaikan oleh Dra. Mulyani, M.Ag. dan Mutia Rahmah dalam acara Pandiran Baisukan di RRI Pro4 Banjarmasin, Jumat, 31 Juli 2026. Keduanya menilai Sasirangan memiliki nilai sejarah, filosofi, sekaligus potensi ekonomi yang terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.
Dra. Mulyani menjelaskan bahwa Sasirangan berasal dari kata manyirang yang berarti menjelujur. Pada awalnya, kain tersebut dikenal sebagai kain pamintaan yang dibuat berdasarkan permintaan untuk keperluan pengobatan tradisional maupun ritual tertentu.
| Baca juga: Mengenal Kuliner Dayak Maanyan |
“Dulu kain ini hanya dibuat berdasarkan permintaan saja untuk pengobatan atau ritual tertentu,” ujar Dra. Mulyani. “Perkembangan Sasirangan saat ini menunjukkan bahwa warisan budaya dapat terus hidup tanpa kehilangan nilai historisnya.”
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan sejarahnya, Sasirangan telah dikenal di Kalimantan Selatan sejak abad ke-12 hingga ke-14 Masehi. Kain tersebut memiliki tiga kelompok motif utama, yakni motif lajur, motif ceplok, dan motif variasi sebagai pelengkap kedua motif tersebut.
Menurutnya, Sasirangan juga memiliki beragam motif tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Di antaranya Kulat Karikit, Hiris Pudak, Bintang Bahambur, Kambang Sakaki, Gigi Haruan, Kambang Kacang, Daun Jeruju, Ombak Sinampur Karang, Turun Dayang, Hiris Gagatas, Ular Lidi, Bayam Raja, Tampuk Manggis, dan Kangkung Kaombakan.
Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari Banjarmasin itu menambahkan bahwa Sasirangan memiliki makna filosofis yang erat dengan doa, harapan, identitas, kebersamaan, serta kesabaran dalam proses pembuatannya. Menurutnya, setiap helai kain Sasirangan mencerminkan nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Saat seseorang memakai Sasirangan, secara tidak langsung ia juga membawa representasi budaya Banjar,” ujarnya. “Sasirangan lahir dari proses yang teliti dan penuh kesabaran.”
Sementara itu, Mutia Rahmah yang merupakan mahasiswi Psikologi Islam UIN Antasari Banjarmasin mengatakan Sasirangan terus berkembang mengikuti tren fesyen modern. Berbagai inovasi desain membuat kain tradisional tersebut semakin diminati oleh berbagai kalangan.
Ia menyebutkan eksistensi Sasirangan didukung oleh inovasi motif dan warna, perkembangan media sosial, wisata budaya, serta dukungan pemerintah, pelaku ekonomi kreatif, dan masyarakat. Berbagai faktor tersebut menjadikan Sasirangan semakin dikenal sebagai produk budaya sekaligus produk kreatif.
“Dari kain tradisional, sekarang Sasirangan berkembang menjadi dress, kemeja, outer, hijab, tas, dan beragam produk fesyen,” kata Mutia Rahmah. “Promosinya juga semakin luas melalui media sosial sehingga mampu menjangkau lebih banyak masyarakat.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....